Liputan6.com, Beijing - Runtuhnya sebuah gedung 30 lantai di Bangkok pascagempa Myanmar menjadi sorotan tajam terhadap kualitas infrastruktur dalam proyek-proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas China.
Insiden tragis yang terjadi pada 28 Maret 2025 itu menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan puluhan lainnya hilang. Gedung yang runtuh tersebut merupakan kantor pusat baru Kantor Audit Thailand dan dibangun oleh China Railway No. 10 Engineering Group, sebuah perusahaan milik negara Tiongkok.
Advertisement
Hal mengkhawatirkan, bangunan itu menjadi satu-satunya gedung di Bangkok yang ambruk total akibat guncangan gempa, memunculkan dugaan adanya konstruksi bermutu rendah—atau dalam istilah populer di China, "konstruksi ampas tahu."
Sayangnya, ini bukan kasus tunggal. Sejumlah proyek infrastruktur yang dibangun di bawah payung BRI di berbagai negara, dikutip dari laman dailymirror, Minggu (22/6/2025).
Kenya: Jembatan Runtuh Sebelum Selesai
Pada 2017, Jembatan Sigiri di Busia, Kenya, yang dibangun oleh China Overseas Construction and Engineering Company (COVEC) runtuh bahkan sebelum diresmikan. Insiden ini mencederai 27 pekerja dan menjadi tamparan politik bagi Presiden Uhuru Kenyatta yang tengah berkampanye. Investigasi menyebutkan sejumlah kesalahan teknis, namun tidak ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban.
Ekuador: Pembangkit Listrik Terancam Runtuh
Di Ekuador, Pembangkit Listrik Tenaga Air Coca Codo Sinclair yang selesai dibangun pada 2016 oleh Sinohydro, kini terancam gagal beroperasi. Fasilitas yang menyuplai sepertiga listrik nasional itu menghadapi ribuan retakan dan cacat teknis, dan kini terancam erosi besar-besaran. Pemerintah telah menggugat Sinohydro senilai $1,1 miliar.
Uganda: Bayar Utang Sebelum Proyek Selesai
Proyek bendungan Karuma di Uganda mengalami penundaan bertahun-tahun akibat retakan dan kecacatan struktur. Ironisnya, pemerintah Uganda sudah mulai mencicil utang ke Bank Ekspor-Impor China pada 2023, padahal bendungan baru rampung setahun kemudian. Proyek senilai $1,44 miliar ini didanai 85% oleh pinjaman Tiongkok.
Pakistan: Gangguan Listrik akibat Kebocoran
Pembangkit Listrik Neelum–Jhelum di Pakistan, yang dibangun oleh China Gezhouba Group, mengalami kebocoran terowongan pada 2022. Akibatnya, fasilitas ini ditutup sementara, menimbulkan pemadaman besar dan membebani keuangan negara untuk biaya perbaikan dan energi alternatif.