Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), Nasirul Falah Amru atau Gus Falah, menyebut Bung Karno sebagai seorang santri moderat yang haus ilmu dan belajar dari banyak tokoh besar, mulai dari KH Hasyim Asy’ari hingga HOS Tjokroaminoto.
“Semangatnya menuntut ilmu itu membuat Bung Karno berwawasan luas, moderat dalam berpikir. Karena itu beliau menjadi pembaharu pemikiran Islam yang dikenal oleh dunia internasional,” ujar Gus Falah dalam acara haul ke-55 Bung Karno yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan dan PP Bamusi di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu (21/6/2025).
Advertisement
Pandangan tersebut diamini Ketua Dewan Pakar MPKSDI PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, yang turut hadir sebagai pembicara.
Menurutnya, Bung Karno dihormati dunia internasional karena perannya yang besar dalam sejarah dan pemikiran, yang dirangkumnya dalam konsep “Empat P”.
“Pertama, sebagai proklamator, Bung Karno bukan hanya memerdekakan Indonesia, tapi juga dalam 10 tahun kepemimpinannya mendorong kemerdekaan 49 negara terjajah di Asia dan Afrika,” ujar Amin.
Sebagai penggali Pancasila, lanjutnya, Bung Karno dikenal sebagai pemikir besar dari Dunia Timur yang dikagumi para pemimpin dunia. “Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 berjudul To Build The World a New menggetarkan dunia,” kata mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga itu.
Pembaharu Pemikir Islam
Amin juga menyebut Bung Karno sebagai presiden pertama yang selalu dikenang rakyatnya. Saat memimpin, Indonesia yang baru merdeka memiliki 90 juta penduduk dan tantangan besar sebagai negara baru.
“Terakhir, Bung Karno dikenal sebagai pembaharu pemikiran keislaman. Beliau menganjurkan umat Islam agar meninggalkan taklid dan memahami agama secara rasional, memahami Islam dari apinya, bukan dari abunya,” tambah Amin.
Ia juga menyinggung sikap kritis Bung Karno terhadap konsep-konsep yang dinilai feodalistik. “Sejak sebelum kemerdekaan, Bung Karno mengkritik istilah ‘sayyid’ karena semua manusia sederajat. Tapi kini istilah itu muncul kembali dengan sebutan ‘habib’. Dulu Bung Karno mengkritik ‘khalifah’, sekarang muncul lagi istilah ‘khilafah’,” jelasnya.
Selain Gus Falah dan Amin Abdullah, sejumlah tokoh turut hadir dalam acara haul tersebut, di antaranya Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah dan Ketua PBNU KH Miftah Faqih.
Dalam sambutannya, Ahmad Basarah menegaskan pentingnya mengenang jasa Bung Karno. “Tak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk melupakan Bung Karno. Dunia internasional justru menghormatinya dengan mengabadikan namanya di jalan-jalan protokol, gedung, hingga taman-taman,” ujarnya.