Liputan6.com, Ternate - Batik tubo merupakan batik asli Ternate, Maluku Utara. Motif batik ini menjadi salah satu yang termuda di Indonesia.
Motif batik ini terinspirasi dari rempah-rempah yang banyak tumbuh di wilayah Ternate. Pemilihan motif ini juga dipengaruhi oleh kegiatan sehari-hari masyarakat yang sebagian besar berkerja sebagai petani rempah.
Advertisement
Batik tubo memiliki ciri khas motif yang berwarna berani dan cerah. Warna-warna tersebut terlihat saling berpadu satu sama lain.
Batik tubo mulai dikembangkan pada 2009 oleh seorang pengusaha bernama Kustalani Syakir. Meski tergolong baru, batik dari Ternate memiliki potensi yang cukup besar untuk terus dikembangkan.
Adapun nama tubo diambil dari nama salah satu kampung tertua di Ternate yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama. Dalam membuat batik tubo, Kustalani belajar ke Jawa untuk mengetahui lebih dalam tentang teknik membatik, media, bahan dasar, dan motif-motifnya.
Segala ilmu yang ia dapatkan kemudian diterapkan menjadi batik bercorak orisinal khas Ternate. Teknik cap dianggap menjadi teknik yang paling cocok untuk batik tubo karena belum ada seniman batik di daerahnya.
Selain itu, batik tulis memerlukan ketelitian dan jam terbang tinggi. Masalah lainnya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya dan peralatan.
Saat ini, sudah ada sekitar 42 motif batik tubo, di antaranya motif senjata khas Ternate, lumba-lumba, burung, dan limau gapi. Adapun motif rempah pada batik ini berupa cengkeh, pala, dan masih banyak lagi.
Tahapan pembuatan batik tubo sama seperti batik cap pada umumnya. Setiap satu kain dibutuhkan waktu sekitar empat hari.
Proses pembuatannya dimulai dari membentangkan kain polos yang telah dipotong. Selanjutnya, kain siap masuk ke proses cap dan pewarnaan.
Setelah memilih motif, kain dicap dengan lilin malam secara teliti dan rapi. Kemudian, kain dibiarkan kering dan direndam dalam cairan khusus untuk menjaga warnanya agar meresap dan tahan lama.
Pewarnaan
Setelah selesai, kain dicelupkan ke warna dasar yang diinginkan. Proses pewarnaan dapat diulangi beberapa kali hingga mencapai warna yang diinginkan.
Setelah proses pewarnaan selesai, lilin dihilangkan dengan cara dibilas dan direbus hingga seluruh lilin malam terlepas dari motif. Selanjutnya, motif diberi warna berbeda satu per satu sesuai keinginan.
Selanjutnya, kain dilapisi dengan lilin khusus yang berfungsi untuk menjaga keawetan warna. Tahap terakhir adalah proses melipat dan pengemasan.
Batik tubo khas Ternate dijual dengan harga beragam mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah. Harga tersebut disesuaikan dengan jenis kain, pewarna, serta ukurannya.
Penulis: Resla