Liputan6.com, Bantul - Desa Segoroyoso merupakan sebuah desa di Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pada masa kemerdekaan, desa ini memiliki peran yang cukup penting.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan DIY, pada masa kemerdekaan, Desa Segoroyoso menjadi salah satu lokasi keberadaan markas dan tempat latihan Komando Wehrkreise III. Penggunaan lokasi ini bukan tanpa alasan, melainkan terdapat beberapa latar belakang yang mendasarinya.
Advertisement
Usai proklamasi kemerdekaan, Indonesia masih belum benar-benar bebas dari Belanda. Saat itu, masih terjadi pertempuran di berbagai wilayah.
Desa Segoroyoso menjadi saksi bisu masa-masa perjuangan tersebut. Salah satu alasan desa ini digunakan sebagai markas dan tempat latihan karena letak geografisnya.
Selain itu, di desa ini juga telah berdiri Laskar Segoroyoso, basis pejuang yang berasal dari rakyat. Sosok yang menjadi pelopor Laskar Segoroyoso adalah Wakijan yang bertempat tinggal di Segoroyoso.
Pada akhir 1945, Wakijan pernah mendapat pendidikan kemiliteran. Saat itu, ia mengikuti kader kelaskaran di Kabupaten Bantul sekitar awal Januari 1946.
Jadi Markas
Wakijan kemudian mengajak Dharmo Rumekso untuk mengikuti latihan kelaskaran di Jebugan Bantul. Sepulang dari latihan, Wakijan mengajak Dharmo Rumekso dan Wagimin untuk membentuk Laskar Segoroyoso pada Februari 1946.
Pada 26 Desember 1948, Komandan Brigade X Divisi III bersama sejumlah staf dan pengawalnya mulai memasuki Segoroyoso. Mereka langsung menuju ke rumah Wakijan (Gardo Utomo) yang saat itu telah menjabat sebagal Lurah Segoroyoso.
Akhirnya, diputuskan bersama bahwa rumah tersebut akan dijadikan sebagai markas Komando Brigade X Divisi III. Setelahnya, kelengkapan markas mulai disiapkan, seperti kantor administrasi, palang merah, dapur umum, dan lainnya.
Tercatat, beberapa rumah penduduk kemudian juga digunakan sebagai pusat kegiatan operasional. Adapun beberapa rumah penduduk yang digunakan sebagai markas adalah rumah Dharmo Wisastro di Segoroyoso untuk kantor administrasi dan rumah Mbok Sumo di Tegalrejo sebagai rumah sakit darurat.
Dalam rangka persiapan Serangan Umum 1 Maret, Markas Komando Wehrkreise III dipindahkan ke daerah tengah. Hal ini untuk mempermudah hubungan markas komando dengan medan di sebelah barat.
Saat itu, Desa Bibis dipilih sebagai pengganti. Markas Komando Wehrkreise III akhirnya dipindah ke Desa Bibis, Kalurahan Bangunjiwo, Kabupaten Bantul.
Penulis: Resla