Liputan6.com, Jakarta Momen menjelang pernikahan Al Ghazali, putra sulung dari Ahmad Dhani dan Maia Estianty, menyita perhatian publik. Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah kemunculan sosok Kusthini, ibunda Maia Estianty dalam acara siraman yang digelar dengan khidmat dan penuh budaya Jawa.
Di usia 85 tahun, sang ibunda tampil dengan pesona yang tak luntur. Mengenakan busana tradisional Jawa bercorak bunga yang senada dengan suaminya, beliau terlihat penuh kharisma, ketenangan, dan keanggunan yang khas seorang ibu dari tokoh besar.
Advertisement
Kehadiran beliau juga menunjukkan kekuatan keluarga dan nilai-nilai tradisi yang dijunjung tinggi dalam perayaan sakral tersebut. Potretnya viral di media sosial karena memancarkan semangat serta kebanggaan seorang nenek kepada cucunya di momen penting menjelang pernikahan.
1. Anggun dalam Balutan Busana Tradisional
Dalam potret pertama, sang ibunda Maia tampak duduk anggun di kursi roda, mengenakan kebaya bermotif bunga merah muda dan fuchsia yang sangat mencolok namun tetap elegan. Busana tersebut dipadukan dengan jarik bermotif klasik warna hitam putih yang mencerminkan identitas budaya Jawa.
Meski menggunakan kursi roda, ia tetap menunjukkan aura kuat dan penuh wibawa. Ekspresi wajahnya terlihat lembut dan tenang, seolah mengisyaratkan rasa bangga sekaligus haru terhadap prosesi yang dijalani sang cucu tercinta.
Penampilan sang suami yang berdiri di sampingnya dengan busana senada, lengkap dengan blangkon, semakin mempertegas keharmonisan pasangan lansia ini. Mereka tampil sebagai figur orang tua dan kakek-nenek yang menjadi teladan dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai keluarga.
2. Satu Keluarga dalam Nuansa Seragam dan Kehangatan
Foto kedua memperlihatkan suasana lebih luas yang menampilkan keluarga besar, termasuk kedua orang tua Maia Estianty berdiri di tengah, bersanding dengan Al Ghazali.
Diapit oleh keluarga besar yang mengenakan busana formal dominan putih dan krem, sang ibunda tampil kontras namun harmonis. Pilihan busana floral-nya justru menjadi penyeimbang yang mencerminkan kehangatan sosok ibu dan nenek dalam keluarga.
Pose berdiri dengan dukungan sang cucu menunjukkan bahwa meski di usia lanjut dan dalam kondisi fisik terbatas, ia tetap mengambil peran aktif dalam momen-momen penting keluarga. Keberadaannya menjadi simbol restu dan doa yang mengalir dari generasi tua kepada generasi penerus.