Riset: Penerimaan Vaksin HPV untuk Kalangan Remaja Putri Masih Rendah

Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Padahal, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui pemberian vaksin HPV (Human Papillomavirus) sebanyak dua dosis.

oleh Yanuar HDiterbitkan 22 Juni 2025, 11:00 WIB
Vaksinasi ini ditujukan sebagai langkah pencegahan kanker serviks atau kanker leher rahim. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Yogyakarta - Kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian dua dosis vaksin HPV (Human Papillomavirus), namun sayangnya, tingkat penerimaan vaksin HPV di kalangan remaja putri masih tergolong rendah yaitu di bawah 75 persen dari target nasional. Kesenjangan dalam penerimaan vaksin menjadi perhatian Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Supriyatiningsih yang melakukan riset bersama empat peneliti lainnya: Ida Ayu Sutrisni, Raph L. Harmers, Jennifer Ilo Van Nuil, dan Dewi Friska.

Penelitian ini berjudul “Socio-cultural Context of HPV Immunisation Policy and Practice in Indonesia” dan berlangsung hingga Oktober 2025 ini menyoroti pentingnya vaksinasi HPV bagi anak-anak usia sekolah dasar dan menengah, yang keputusan vaksinasinya masih sangat bergantung pada peran orang tua. Menurut Supriyatiningsih, atau akrab disapa Upi, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi keputusan seseorang terkait vaksinasi.

“Faktor sosiokultural seperti pandangan masyarakat terhadap vaksin sangat berpengaruh. Selain itu, ada tantangan akses, terutama tingginya biaya vaksin HPV dan kebutuhan penyimpanan dalam cold chain agar tetap efektif,” jelasnya saat diwawancarai di UMY, Senin 16 Juni 2025.

Tim memilih dua lokasi dengan karakteristik yang kontras, yakni Kepulauan Seribu sebagai wilayah urban yang dekat dengan pusat pemerintahan, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) — khususnya Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara — sebagai representasi wilayah terpencil (remote area) untuk mengetahui dan menggali lebih dalam pengaruh faktor sosiokultural itu terhadap vaksin HPV.

Menariknya, berbeda dari Indonesia yang hingga kini masih memfokuskan vaksinasi HPV pada anak perempuan, sejumlah negara di kawasan Eropa telah memperluas cakupan vaksinasi ini hingga ke anak laki-laki. "Tidak kalah penting, penyebaran informasi yang keliru juga menjadi kendala dalam meningkatkan penerimaan vaksin," ujarnya.

Upi menjelaskan bahwa kondisi di Eropa itu berdasarkan temuan ilmiah bahwa laki-laki juga dapat menjadi pembawa virus HPV dan menularkannya melalui hubungan seksual. Melihat fakta tersebut, dr. Upi dan tim peneliti berharap hasil penelitian ini dapat mendorong perumusan strategi pendekatan vaksinasi yang lebih inklusif dan efektif, termasuk menjangkau lintas gender. 

“Kami ingin menyusun desain studi yang memungkinkan masyarakat, terutama orang tua, memahami pentingnya vaksinasi HPV. Lebih dari itu, kami berharap penelitian ini dapat menjadi batu loncatan strategis dalam peningkatan cakupan vaksinasi di Indonesia ke depan,” tutupnya soal pemberian vaksin HPV.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya