Liputan6.com, Aceh - Rujak aceh merupakan kudapan khas Aceh bercita rasa pedas yang menyegarkan. Tak hanya nikmat, kuliner ini juga mencerminkan kekayaan budaya kuliner Aceh.
Rujak aceh lahir melalui adaptasi dari berbagai sajian tradisional. Sajian ini menawarkan perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan gurih sekaligus.
Advertisement
Seperti kuliner khas Aceh pada umumnya, rujak aceh juga menggunakan ragam rempah yang khas. Hal ini mencerminkan kebiasaan masyarakat Aceh yang senang mengonsumsi makanan dengan cita rasa rempah yang kuat.
Rujak aceh terasa istimewa karena tambahan dua buah eksotis, rumbia dan kawista. Buah rumbia dikenal juga sebagai salak hutan aceh.
Buah ini berasal dari pohon sagu. Buahnya memiliki kulit berwarna hijau dengan tekstur bersisik.
Daging buahnya berwarna putih keruh. Masyarakat Aceh kerap menambahkan buah ini ke dalam bumbu rujak untuk memberikan cita rasa khas dengan tekstur renyah.
Berukuran Kecil
Sementara itu, buah kawista atau buah batok memiliki daging buah berwarna krem. Buah ini memiliki biji-biji berukuran kecil.
Buah kawista mampu memberikan aroma wangi dengan rasa sedikit asam. Perpaduan buah rumbia dan kawista memberikan sentuhan segar dan khas yang sulit ditemukan pada rujak daerah lain.
Seperti rujak pada umumnya, rujak aceh juga dibuat menggunakan cabai merah, terasi, gula aren, dan kacang. Namun, tekstur sambal kacang yang dihasilkan lebih kental dan pekat, berbeda dengan rujak di Pulau Jawa yang biasanya lebih cair.
Rujak aceh bukan sekadar kudapan belaka. Rujak ini sekaligus menjadi bagian dari tradisi yang kerap hadir dalam acara keluarga, perayaan penting, dan momen spesial lainnya. Rujak aceh menjadi simbol kebersamaan bagi masyarakat Aceh.
Penulis: Resla