Liam Delap: Akhir atau Awal Cerita Baru Kutukan Nomor 9 Chelsea?

Usianya baru 22 tahun, tapi ia tak ragu memilih mengenakan jersey nomor 9—angka yang dianggap 'terkutuk' di Stamford Bridge.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 17 Juni 2025, 10:31 WIB
Pemain Chelsea Liam Delap merayakan kemenangan atas Los Angeles FC di laga Grup D Piala Dunia Antarklub 2025, Selasa, 17 Juni 2025. (AP Photo/Brynn Anderson)

Liputan6.com, Jakarta Liam Delap tiba di Chelsea dengan bekal kepercayaan diri tinggi dan masa depan yang menjanjikan. Usianya baru 22 tahun, tapi ia tak ragu memilih mengenakan jersey nomor 9—angka yang dianggap 'terkutuk' di Stamford Bridge. Tak banyak pemain sebelumnya yang berhasil bersinar dengan nomor itu.

Setelah mencetak 12 gol untuk Ipswich Town musim lalu, Delap pindah ke Chelsea pada 4 Juni 2025. Klub memicu klausul pelepasannya senilai £30 juta (sekitar Rp619 miliar), dan langsung memberinya kontrak berdurasi enam tahun. Ia melakoni debut dalam laga pembuka Piala Dunia Antarklub 2025, memberikan assist dalam kemenangan 2-0 atas Los Angeles FC meski hanya bermain 15 menit.

Pelatih Enzo Maresca menunjukkan keyakinan penuh pada Delap. Mereka sudah saling mengenal sejak di akademi Manchester City, dan kini bersatu lagi untuk menjawab tantangan besar: mengakhiri kutukan nomor 9 di Chelsea.


Nomor 9 Chelsea: Antara Harapan dan Kutukan

Fernando Torres - Striker asal Spanyol ini datang ke Stamford Bridge dengan status pemain bintang dari Liverpool. Namun sayang, penampilan Torres tak segemilang saat berseragam The Reds. (AFP//Ben Stansall)

Nomor punggung 9 di Chelsea seolah membawa beban tak kasatmata. Sejak era Premier League, banyak pemain dengan reputasi besar justru melempem saat mengenakan angka ini. Thomas Tuchel bahkan pernah berkata bahwa nomor ini "terkutuk".

Beberapa pemain seperti Chris Sutton, Mateja Kezman, dan Steve Sidwell gagal memenuhi ekspektasi. Bahkan Fernando Torres yang dibeli dengan rekor £50 juta (sekitar Rp1,03 triliun) dari Liverpool pada 2011, lebih dikenal karena kegagalannya mencetak gol daripada kontribusinya. Ada pula Romelu Lukaku yang sempat jadi rekrutan termahal klub, tapi akhirnya kembali dilepas karena performa yang tak sesuai harapan.

Tidak hanya striker, bahkan gelandang dan bek pernah mengenakan nomor 9—seperti Khalid Boulahrouz dan Sidwell—menandakan betapa tak populernya angka ini di antara para penyerang. Delap kini mencoba mengubah persepsi itu, dan menjadi simbol harapan baru.


Dari Ipswich Menuju Chelsea

Kiper Chelsea, Filip Jörgensen (kanan) gagal menghalau bola tendangan penalti dari pemain Ipswich Town, Liam Delap pada laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 yang berlangsung di Portman Road, Ipswich, Inggris, Selasa (31/12/2024) dini hari WIB. (AP Photo/Richard Pelham)

Musim 2024/25 adalah pembuktian bagi Liam Delap di kasta tertinggi. Bersama Ipswich Town, ia tampil impresif dengan torehan 12 gol. Ia mencetak brace ke gawang Aston Villa, gol dan assist saat mengalahkan Chelsea, serta mengukir rekor pribadi di klub promosi tersebut.

Lanjut Baca:

Kegemilangannya di Ipswich menarik perhatian banyak klub top. Manchester United, Newcastle, dan Nottingham Forest sempat meminatinya. Namun, Delap memilih Chelsea, utamanya karena kedekatannya dengan Maresca dan sistem permainan yang dikenalnya sejak di akademi Man City. Meski Ipswich terdegradasi, performa Delap tak tenggelam. Justru dari keterpurukan klub lamanya, ia menemukan jalan menuju panggung besar. Kini, ia bersaing dengan Nicolas Jackson untuk menjadi andalan utama di lini depan Chelsea.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya