Gangguan Penglihatan Bisa Dipicu Multiple Sclerosis, Apa Itu?

Mengenal multiple sclerosis yang bisa picu gangguan penglihatan dan masalah kesehatan lainnya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 17 Juni 2025, 15:00 WIB
Gangguan Penglihatan Bisa Dipicu Multiple Sclerosis, Apa Itu? ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta Gangguan penglihatan dapat dipicu oleh penyakit autoimun seperti multiple sclerosis (MS).

Multiple sclerosis adalah penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, serta menyebabkan berbagai gejala fisik, mental, gangguan penglihatan, hingga kognitif.

MS bisa sangat sulit untuk didiagnosis karena tidak ada tes tunggal dan gejalanya sangat berbeda dari satu orang ke orang lain. Secara global, terdapat lebih dari 2,8 juta penyintas MS, dengan dua pertiga di antaranya adalah perempuan.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan multiple sclerosis. Namun, kemajuan medis telah memungkinkan hadirnya pengobatan yang mampu meringankan gejala-gejala yang dialami penyintas MS.

Di Indonesia, prevalensi MS diperkirakan antara 1-5 penyintas per 100.000 penduduk. Karena prevalensinya yang relatif rendah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap MS pun masih terbatas. Hal ini sering kali menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup penyintas.

Sayangnya, diagnosis dan penanganan multiple sclerosis di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Sehingga, kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan akses penanganan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas hidup pasien.

Hal ini disampaikan Ketua Pokja Neuroinfeksi dan Neuroimunologi Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), Dr. dr. Paulus Sugianto, Sp.S (K).

 

Tingkatkan Kesadaran Soal Multiple Sclerosis

Guna meningkatkan kesadaran soal MS, PT Merck Tbk memperingati World Multiple Sclerosis Day alias Hari Sklerosis Multipel Sedunia yang jatuh pada tanggal 30 Mei.

Peringatan dilakukan dengan menyelenggarakan Multiple Sclerosis Awareness Week (Pekan Kesadaran MS). Program ini berlangsung mulai 30 Mei hingga 15 Juni sebagai dukungan penanganan MS secara berkelanjutan di Indonesia.

Mengusung tema Echoing Light, Join the Fight! penyelenggara ingin menyebarkan kesadaran dan mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam melawan MS.

Perusahaan yang berfokus pada inovasi di bidang kesehatan ini berupaya mengembangkan inovasi pengobatan yang lebih efektif dan memperjuangkan akses penanganan yang merata bagi pasien MS.

"Kami meyakini bahwa perjuangan pasien MS adalah perjuangan kolektif yang memerlukan dukungan dari semua pihak. Untuk itu, kami mendukung semua sektor, dari komunitas, tenaga kesehatan, serta pembuat kebijakan untuk bersama meningkatkan kesadaran dan memperluas akses dalam deteksi dini hingga penanganannya,” ujar Evie Yulin, President Director PT Merck Tbk.

“Melalui MS Awareness Week, kami berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan inklusif bagi para penyintas agar mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik,” imbuhnya. 

 

Kolaborasi Ciptakan Ruang Aman bagi Pasien MS

Pentingnya kolaborasi dan menciptakan ruang aman bagi pasien MS juga ditekankan oleh dr. Sutji Windari, Anggota Yayasan Multiple Sclerosis Indonesia (YMSI).

“Sebagai organisasi non profit pertama sejak 2008 yang menaungi pasien Multipel Sklerosis dan Neuro Myelitis Optica, YMSI mendukung adanya kegiatan edukasi mengenai MS ini, karena tujuan kami adalah ingin Indonesia menjadi tempat yang lebih baik dan aman bagi pasien MS,” jelas Sutji. 

“Kami juga menyambut dengan baik para penyintas MS yang ingin bergabung melalui kanal media kami seperti Instagram dan Facebook agar tidak merasa berjuang sendiri,” tambahnya.

 

Tingkatkan Pengetahuan Masyarakat Soal MS

Sementara itu, untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai multiple sclerosis, Merck juga berkolaborasi dengan Sahabat MS, dalam kegiatan MS Experience Challenge by Jessy.

Melalui inisiatif yang dikembangkan oleh pendiri komunitas pasien Sahabat MS, Jessy, masyarakat diajak untuk mengetahui dan merasakan gejala-gejala umum MS, seperti brain fog, masalah penglihatan, hingga kesulitan bergerak.

"Dengan MS Experience Challenge, kami ingin membuka mata masyarakat tentang realitas yang dihadapi oleh mereka yang hidup dengan MS. Menumbuhkan empati masyarakat bisa dimulai dengan merasakan gejala MS, meski hanya sejenak,” jelas Jessy.

“Kami juga berharap inisiatif ini bisa menambah kosa kata para pejuang MS saat menjelaskan kondisi mereka ke dokter atau caregiver, sehingga orang sekitar dapat memberikan dukungan yang diperlukan,” pungkasnya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya