Susi Pudjiastuti Doakan Karma Menimpa Para Perusak Lingkungan

Susi meyakini segala bentuk kejahatan dan aksi perusakan lingkungan akan mendapatkan karma, atau balasan dari perbuatan yang dilakukan olehnya.

oleh Tim NewsDiperbarui 16 Juni 2025, 15:50 WIB
Susi Pudjiastuti saat masih menjabat sebagai Menteri Kelautan & Perikanan memberikan pidato pada pembukaan Rapat Kepatuhan dan Penegakan Komite INTERPOL Lingkungan (ECEC) di Singapura. (AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melontarkan pernyataan keras terkait maraknya kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Lewat akun media sosial pribadinya, Susi menyinggung para pelaku perusakan ekosistem yang menurutnya telah melampaui batas.

“Saya selalu berdoa pada saat kita tidak bisa lagi menghentikan kejahatan perusakan lingkungan, ekosistem dengan segala keindahan dan manfaat keberlanjutannya," tulis Susi, Jumat (13/6/2025).

Susi pun meyakini segala bentuk kejahatan dan aksi perusakan lingkungan akan mendapatkan karma, atau balasan dari perbuatan yang dilakukan olehnya.

"Alam akan menghancurkan mereka yang melakukan kejahatan dengan caranya. Amin YRA,” 

 

Bersuara Keras Terkait Kerusakan Lingkungan

Pemilik Susi Air Susi Pudjiastuti menyampaikan keterangan terkait pembakaran pesawat dan penyanderaan Pilot Capt Philip Mark Mehrtens di Jakarta. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap sejumlah aktivitas pertambangan yang diduga merusak kawasan hutan dan pesisir di berbagai wilayah Indonesia.

Susi menilai eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali bukan hanya merugikan masyarakat saat ini, tetapi juga mengancam generasi mendatang.

Dikenal sebagai sosok yang vokal dalam isu lingkungan, Susi juga pernah menggagas kebijakan pelarangan penangkapan ikan secara destruktif saat menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014–2019.

Ia kerap mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut dan darat agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Meski tidak menyebutkan lokasi atau kasus spesifik, pernyataan Susi dianggap sebagai kritik terhadap lemahnya pengawasan terhadap aktivitas industri ekstraktif, terutama yang berdampak langsung pada kerusakan lingkungan.

Belakangan ini, berbagai organisasi masyarakat sipil juga mendesak pemerintah untuk lebih tegas dalam menindak pelanggaran lingkungan, terutama oleh perusahaan tambang yang beroperasi tanpa memperhatikan dampak ekologis dan sosial.

Infografis Daya Pikat Wisata Raja Ampat. (Liputan6.com/Abdillah/Gotri)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya