Liputan6.com, Banjarmasin - Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memperingati 10 Muharam dengan tradisi memasak bubur asyura. Ritual bubur asyura merupakan akulturasi Islam dan budaya riparian, terlihat dari proses pembuatan hingga pendistribusian bubur yang berkaitan dengan kehidupan sungai.
Mengutip dari berbagai sumber, bubur asyura merupakan hidangan simbolis yang disajikan setiap tanggal 10 Muharam dalam kalender Hijriah. Masyarakat Banjar mengolahnya sebagai bentuk peringatan atas keselamatan Nabi Nuh dan pengikutnya dari peristiwa banjir besar.
Advertisement
Tradisi bubur asyura telah menjadi bagian dari budaya Banjar sejak abad ke-17. Pelaksanaannya bertepatan dengan masa awal penyebaran Islam di wilayah Kalimantan Selatan.
Sebanyak 78% desa di wilayah Banjar masih aktif melestarikan tradisi bubur asyura. Setiap pelaksanaannya melibatkan minimal 50 keluarga dalam tiap komunitas.
Bahan dasar pembuatan bubur asyura terdiri atas beras, santan, dan gula merah, dengan beberapa varian tambahan seperti pisang atau ubi jalar. Karakteristik unik terlihat pada metode pembuatan secara kolektif.
Jumlah Besar
Warga setempat biasa mengolah bubur dalam kuantitas besar melalui kegiatan gotong royong. Sungai sebagai elemen vital kehidupan masyarakat Banjar juga turut memengaruhi tradisi ini.
Pembagian bubur asyura menggunakan perahu merupakan adaptasi dari tradisi sungai masyarakat setempat yang sudah ada sebelum Islam. Sebagian kelompok masih memanfaatkan perahu untuk transportasi bahan mentah maupun pendistribusian bubur matang ke pemukiman di sepanjang bantaran sungai.
Aspek toleransi terlihat dari pola pembagian yang tidak membedakan penerima berdasarkan latar belakang agama. Praktik ini telah menjadi bagian dari identitas kultural Banjar selama beberapa generasi.
Beberapa komunitas melengkapi ritual dengan pembacaan doa bersama sebelum prosesi pembagian berlangsung. Ritual ini juga menjadi media edukasi, di mana para tetua biasanya menyisipkan kisah Nabi Nuh dan nilai kebersamaan saat proses pembuatan bubur.
Penulis: Ade Yofi Faidzun