Liputan6.com, Lombok - Sate rembiga merupakan salah satu hidangan khas Lombok yang telah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Pejanggik pada abad ke-14 hingga ke-17. Sate rembiga dikenal dengan cita rasa pedas manis dan rempah yang kuat, hasil dari proses marinasi daging sapi dengan bumbu khas Lombok.
Mengutip dari berbagai sumber, sate rembiga berasal dari daerah Rembiga di Mataram, yang merupakan warisan kuliner Nusa Tenggara Barat. Keberadaan sate rembiga tidak terlepas dari pengaruh Kerajaan Pejanggik yang pernah berjaya di Pulau Lombok.
Advertisement
Pada masa itu, hidangan ini diperkirakan telah disajikan sebagai salah satu sajian istimewa. Daerah Rembiga, yang menjadi asal nama sate ini, merupakan wilayah penting dalam sejarah Lombok.
Sate rembiga menggunakan daging sapi yang dipotong berbentuk dadu sebelum dimarinasi. Bumbu dasar terdiri dari cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, terasi, dan kemiri.
Campuran rempah ini dihaluskan lalu dicampur dengan kecap manis dan air asam jawa untuk menciptakan rasa pedas, manis, dan gurih. Proses marinasi yang memakan waktu beberapa jam membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging.
Daging sapi yang telah dipotong dicampur dengan bumbu halus dan didiamkan dalam kulkas selama sekitar satu jam. Setelah itu, daging ditusuk menggunakan tusuk sate dan dibakar di atas arang hingga matang.
Pembakaran dengan arang memberikan aroma khas yang memperkaya cita rasa. Sate rembiga umumnya disajikan bersama nasi atau lontong sebagai pelengkap.
Simak Video Pilihan Ini:
Ciri Khas
Ciri khas sate rembiga terletak pada keseimbangan rasa pedas, manis, dan gurih yang berasal dari racikan rempah-rempah. Penggunaan terasi dan air asam jawa memberikan sentuhan rasa yang kuat.
Penyajiannya sate rembiga terbilang sederhana, biasanya menggunakan nasi atau lontong. Meskipun telah berabad-abad sejak masa Kerajaan Pejanggik, sate rembiga tetap populer di Lombok dan menjadi salah satu hidangan yang sering dicari wisatawan.
Beberapa rumah makan dan pedagang kaki lima di Mataram dan sekitarnya masih mempertahankan resep tradisional. Sate rembiga bukan sekadar hidangan, melainkan juga bukti sejarah panjang kuliner Lombok.
Penulis: Ade Yofi Faidzun