Liputan6.com, Jakarta - Federation Internationale de l'Automobile (FIA) baru saja merilis jadwal sementara untuk musim depan dari ajang balap mobil listrik, Formula E. Pengumuman ini sontak membuat banyak penggemar balap di Indonesia bertanya-tanya.
Pasalnya, nama Jakarta tidak tercantum dalam daftar tersebut. Lalu, bagaimana kelanjutan gelaran Formula E di Jakarta?
Advertisement
Dalam jadwal sementara yang dirilis FIA, Formula E musim depan direncanakan akan memiliki 18 seri balapan. Seri pembuka akan digelar di Sao Paulo, Brasil, pada Desember 2025. Beberapa kota besar lainnya mendapatkan jatah double header atau menggelar dua balapan sekaligus. Kota-kota tersebut antara lain Jeddah, Berlin, Monaco, Shanghai, Tokyo, dan London.
Dua tahun silam, Jakarta sempat merasakan euforia menjadi tuan rumah double header Formula E. Sayangnya, pada musim ini, Jakarta hanya menggelar satu balapan saja. Kabar yang lebih mengejutkan adalah menghilangnya nama Jakarta dari daftar tuan rumah Formula E musim depan.
Kontrak Formula E Jakarta Berakhir?
Berdasarkan perjanjian yang ada, Jakarta memang memiliki kontrak untuk menggelar Formula E selama tiga tahun. Kontrak ini dimulai sejak musim 2022 dan seharusnya berakhir pada 2024. Akan tetapi, karena adanya kontestasi politik tahun lalu, pelaksanaan balapan terakhir di Jakarta diundur hingga tahun ini.
Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi mengenai kemungkinan perpanjangan kontrak tersebut untuk musim depan. Namun, dalam jadwal yang telah dipublikasikan, masih terdapat dua slot kosong yang berpotensi diisi oleh Jakarta, yaitu pada seri ke-11 atau 12.
Meskipun demikian, kepastian mengenai kelanjutan Formula E di Jakarta masih menjadi tanda tanya besar. Banyak pihak berharap agar negosiasi perpanjangan kontrak dapat segera dilakukan demi menjaga keberlangsungan ajang balap bergengsi ini di tanah air.
Asia di Kalender Formula E
Jika mengacu pada jadwal sementara yang telah dirilis, hanya tiga negara di Asia yang akan menjadi tuan rumah Formula E musim depan. Negara-negara tersebut adalah Arab Saudi, China, dan Jepang. Sementara itu, sebagian besar balapan lainnya akan diselenggarakan di Eropa dan Amerika Selatan.
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai arah pengembangan Formula E di kawasan Asia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, jumlah balapan di Asia masih tergolong sedikit dibandingkan dengan benua lainnya.