8,6 Juta Orang Ikut Cek Kesehatan Gratis, Masalah Gigi Paling Banyak Ditemukan

Menkes Budi sebut program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang sudah berjalan empat bulan, tepatnya sejak 10 Februari 2025 sudah dimanfaatkan oleh 8,6 juta orang.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 13 Juni 2025, 13:29 WIB
Menkes Budi dalam pemaparan CKG 4 bulan dari Februari hingga Juni 2025. Masalah gigi dan mulut paling banyak ditemukan dari peserta CKG.

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang berjalan sejak 10 Februari 2025 sudah menjangkau nyaris 8,7 juta orang tepatnya 8.623.665 juta orang per 11 Juni 2025.

"Dan, sudah 8,2 juta yang selesai melakukan program CKG," kata Menkes Budi dalam konferensi pers Kamis, 12 Juni 2025.

Program yang menyasar seluruh masyarakat Indonesia mulai dari usia nol ini dilakukan di 38 provinsi yang melibatkan 9.552 puskesmas. Dari 38 provinsi, Jawa Tengah mencatatkan paling banyak warganya yang jalani CKG yakni 3,2 juta orang. Disusul di posisi dua dan tiga ada Jawa Timur dan Jawa Barat.

Sementara itu, tiga provinsi yang paling sedikit masyarakatnya melakukan CKG ada di Papua yakni Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Lebih Banyak Perempuan yang Ikut CKG

Budi mengatakan selama empat bulan pelaksanaan CKG yang lebih antusia melakukan pemeriksaan kesehatan adalah perempuan. Dari total peserta yang ikut CKG hingga 11 Juni 2025, 5,3 juta adalah perempuan atau sekitar 62,2 persen. Sementara laki-laki yang ikut CKG hanya 37,7 persen atau 3,2 juta orang. Ini artinya ada dua dari tiga perempuan yang dilayani dalam Cek Kesehatan Gratis.

"Ini adalah panggilan buat saya sendiri sebagai laki-laki agar memberikan contoh nih, kita harus hidup lebih sehat," kata Budi.

Budi juga menyinggung mengenai usia rata-rata hidup perempuan yang di atas laki-laki. Bisa jadi faktornya karena tidak serajin perempuan dalam memeriksakan kesehatan.

"Saya rasa inilah salah satu penyebab, karena kita laki-laki tidak serajin istri atau anak perempuan yang melakukan CKG," katanya.

"Jadi, para laki-laki Indonesia kita harus ikuti rekan-rekan kita yang wanita lakukan CKG," ajak Budi.

 

Masalah Kesehatan Terbanyak: Gigi dan Mulut, Lebih dari 69 Persen

Hal yang menjadi sorotan Budi dari hasil empat bulan CKG berlangsung adalah tentang masalah gigi.

"Paling tinggi masalah gigi," kata Budi.

"Masalah gigi ini tinggi sekali di masyarakat Indonesia. Saya akui memang kadang-kadang kita kurang perhatian ke kesehatan gigi, padahal penting," katanya.

Pada seluruh peserta CKG usia dewasa yang alami masalah gigi ada 69,2 persen. Mulai dari gigi berlubang, gigi hilang, gigi goyang dan gusi melorot.

Semakin tinggi usia, masalah pada gigi dan mulut meningkat. Bisa dilihat pada uisa 60 tahun ke atas mencapai 85 persen punya masalah gigi dan mulut. Sementara di kelompok usia bawahnya 71 persen.

Di kesempatan itu, Budi yang sudah melakukan CKG di Puskesmas Pancoran Jakarta belum lama ini ternyata memiliki masalah gigi.

"Pas gigi saya diperiksa gigi saya ada bolong, beberapa juga sudah diganti," kata Budi.

Menkes Budi jalani pemeriksaan gigi saat CKG di Puskesmas Pancoran. (Foto: Dok Kemenkes RI)

Hipertensi, Diabetes dan Obesitas Juga Tinggi

Hipertensi dan Diabetes pada peserta CKG (Foto dok: Freepik/pixel.shot.com).

Selain gigi, penyakit hipertensi, diabetes dan obesitas sentral menjadi masalah tertinggi yang ditemukan dalam CKG. Padahal ketiga penyakit tersebut merupakan penyebab penyakit jantung, ginjal dan stroke.

Bila menilik data tahunan, Budi mengatakan lebih dari setengah juta orang Indonesia yang meninggal karena jantung dan stroke.

"Dan faktor risikonya konsisten di lapangan, yakni hipertensi atau darah tinggi, diabetes dan obesitas," katanya.

Obesitas Sentral

1 dari 2 perempuan dan 1 dari 4 laki-laki peserta CKG alami obesitas sentral. Obesitas sentral adalah kondisi lingkar pinggang di atas 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada perempuan.

Hipertensi

20,9 persen peserta CKG memiliki tekanan darah tinggi.

Diabetes

5,9 persen dari peserta CKG alami diabetes.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya