Nostalgia: Ketika Luka Modric Mendapat Label Transfer Terburuk di La Liga

Senin, 27 Agustus 2012, Luka Modric berdiri di atas rumput hijau Santiago Bernabeu. Di sekelilingnya, para penggemar Real Madrid menyambut rekrutan anyar dari Tottenham itu dengan antusias.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 12 Juni 2025, 12:38 WIB
Gelandang anyar Real Madrid Luka Modric bermain dengan bola di presentasi pertama di Santiago Bernabeu, Madrid, 27 Agustus 2012. Hari ini Madrid dan Tottenham Hotspur memberi konfirmasi resmi terkait transfer Modric. AFP PHOTO / DOMINIQUE FAGET

Liputan6.com, Jakarta Senin, 27 Agustus 2012, Luka Modric berdiri di atas rumput hijau Santiago Bernabeu. Di sekelilingnya, para penggemar Real Madrid menyambut rekrutan anyar dari Tottenham itu dengan antusias. Inilah momen yang diyakini sebagai takdir sepak bola—Modric bergabung dengan klub elite yang sanggup mengejar trofi terbesar di Eropa.

Bersinar bersama Kroasia di Euro 2008 dan mengangkat pamor Spurs ke level Liga Champions, Modric tampak siap memasuki panggung utama. Ia baru berusia 26 tahun, berada di puncak kariernya, dan dinilai sebagai sosok yang ideal untuk melengkapi lini tengah Los Blancos. Tak mudah bagi Tottenham melepasnya, bahkan Daniel Levy harus menolak pendekatan Chelsea sebelum melepasnya ke Spanyol dengan mahar £30 juta (sekitar Rp570 miliar).

Florentino Perez dan Jose Mourinho menyambutnya sebagai jawaban dari kebutuhan taktis Real Madrid. “Ia punya visi, teknik, keputusan cepat, bisa menekan, dan sangat cerdas dalam menempatkan posisi,” kata Mourinho dalam sebuah wawancara. Madrid sedang bersiap menyapu bersih segalanya.

Namun, kenyataan ternyata tak seindah harapan. Awal yang berantakan membuat narasi seputar dirinya berubah. Pada satu titik, dia bahkan sampai mendapatkan label memalukan sebagai transfer terburuk di La Liga.


Era Mourinho dan Awal Musim yang Berantakan

Pelatih Real Madrid Jose Mourinho pada partai Copa del Rey melawan Malaga di Estadio La Rosaleda, Malaga, 10 Januari 2012. AFP PHOTO/CRISTINA QUICLER

Musim 2012/13 sejatinya dimulai manis. Modric melakukan debut dalam leg kedua Supercopa de Espana melawan Barcelona dan membantu Madrid meraih trofi lewat kemenangan 2-1 (agregat 4-4). Namun, inilah satu-satunya gelar yang mereka raih musim itu. Sisanya? Kacau, penuh ketegangan, dan sangat “Mourinho”.

Real Madrid cuma meraup empat poin dari empat laga awal La Liga. Barcelona, yang diasuh Tito Vilanova pascaera Pep Guardiola, langsung melesat dan tak terkejar. Madrid tertinggal hingga 18 poin di klasemen—terlalu jauh untuk dikejar, bahkan untuk tim sekelas mereka.

Modric sendiri kesulitan beradaptasi. Ia datang di tengah musim, tanpa pramusim, dan harus langsung masuk ke tim yang sedang bergejolak. Ia lebih sering dimainkan sebagai gelandang serang dalam formasi 4-2-3-1, tapi gagal menyamai kontribusi gemilang Mesut Ozil dari musim sebelumnya.


Dicap Gagal, Dihina Sebagai Pembelian Terburuk

Ekspresi kapten Timnas Kroasia Luka Modric di sesi konferensi pers di Warka, 7 Juni 2012, jelang digelarnya Euro 2012. AFP PHOTO / DIMITAR DILKOFF

Menjelang Natal 2012, media olahraga ternama Marca menggelar jajak pendapat. Hasilnya mengejutkan: Modric terpilih sebagai "pembelian terburuk La Liga" musim itu. Ia meraih 32 persen suara, mengalahkan nama seperti Alex Song. Tak banyak gol, tak banyak assist, dan tak masuk skema utama Mourinho.

Lanjut Baca:

“Ini Real Madrid. Tekanannya luar biasa, saya paham itu,” ujar Modric lewat media Kroasia. Namun, saya percaya saya masih bisa membuktikan diri.” Ucapan itu terasa sebagai bentuk kepercayaan diri yang nyaris terhapus oleh kritik kejam publik Madrid. Mourinho sendiri tidak tampak terlalu panik. Ia melihat proses adaptasi Modric sebagai sesuatu yang wajar. Sementara itu, di ruang ganti, pelatih asal Portugal itu tengah berkonflik dengan nama-nama besar seperti Iker Casillas dan Sergio Ramos. Atmosfer klub sedang penuh bara. Bagi Modric, ini bukan musim impian, melainkan ujian terbesar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya