Gaet Perusahaan Spanyol, Industri Lokal Bantu Tekan Impor Pipa Baja

CT Advance dan Tubacex akan memproduksi sebanyak 10.000 ton baja anti karat per tahun. Rencananya produk baja anti karat tersebut akan digunakan untuk di offshore.

oleh Septian DenyDiterbitkan 11 Juni 2025, 21:45 WIB
CT Advance dan Tubacex akan memproduksi sebanyak 10.000 ton baja anti karat per tahun. Rencananya produk baja anti karat tersebut akan digunakan untuk di offshore.

Liputan6.com, Jakarta Perusahaan dalam negeri PT CT Advance Technology menggandeng perusahan Spanyol, Tubacex Group dalam rangka menekan impor produk pipa baja yang digunakan di proyek migas lepas pantai (offshore).

Kerja sama dua perusahan ini tertuang dalam memorandum of understanding (MoU).  Dalam kerja sama tersebut, CT Advance Technology akan memproduksi baja tahan karat berkualitas tinggi seperti Austenitic.

Duplex, Super Duplex, dan 6Mo, serta produk pipa dan fitting berbahan baku paduan tinggi lainnya. Kolaborasi ini diperkirakan akan memenuhi kebutuhan hingga 10.000 ton material duplex per tahun, terutama untuk kontraktor bagi hasil (PSC).

Presiden Direktur CT Advance Technology Henry Leo mengatakan, lewat kerja sama ini, CT Advance dan Tubacex akan memproduksi sebanyak 10.000 ton baja anti karat per tahun. Rencananya produk baja anti karat tersebut akan digunakan untuk di offshore.

"Indonesia negara kepulauan dan ke depan banyak investasi akan di offshore. Di offshore itu kan tingkat korosinya (pipa) kan tinggi. Makanya pipa ini akan diperlukan," ujarnya, Rabu (11/6/2025).

Selain untuk masuk ke pasar dalam negeri, Henry Leo menargetkan untuk bisa masuk ke pasar ekspor. Namun untuk pasar Amerika Serikat pihaknya enggan terlalu berambisi.

"Terutama dalam waktu dekat untuk ekspor ke pasar ASEAN dulu, lalu ke Eropa juga sama, tapi kalau AS saya rasa masih wait n see dulu," tutur Henry.

 

Potensi Industri Logam

CT Advance dan Tubacex akan memproduksi sebanyak 10.000 ton baja anti karat per tahun. Rencananya produk baja anti karat tersebut akan digunakan untuk di offshore.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta menyatakan, ada potensi pertumbuhan yang sangat menjanjikan pada industri logam dasar, yang tumbuh sebesar 14,47% secara tahunan lonjakan besar dibandingkan pertumbuhan sektor manufaktur non-migas lainnya yang hanya 4,31%.

Investasi juga menunjukkan tren positif, dengan lebih dari 67 triliun rupiah atau sekitar 4 miliar dolar AS masuk ke sektor ini. Pada tahun 2024, Indonesia memproduksi 17 juta ton crude steel.

"Dan menempatkan kita di peringkat ke-14 dunia. Saat ini, kita memiliki 14 produsen OCTG dalam negeri dengan kapasitas yang memadai, namun baru dimanfaatkan sekitar 40%. Ini menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mendukung kebutuhan sektor minyak dan gas nasional secara lebih optimal," kata dia.

 

 

Proyek Besar

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BP mampu mengoperasikan Tangguh LNG secara optimal. (Dok SKK Migas)

Dia menyebut, kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung proyek-proyek besar seperti BP Tangguh UCC dan Kutei North Hub. Kerja sama ini diperkirakan akan memenuhi kebutuhan hingga 10.000 ton material duplex per tahun, terutama untuk kontraktor bagi hasil (PSC). Dengan nilai investasi sebesar Rp 100 miliar dan penciptaan 50 lapangan kerja baru, PT CT Advance Technology akan melakukan proses hilirisasi terhadap produk setengah jadi dari Tubacex Group di fasilitas produksinya di Cilegon.

"Saya berharap ini menjadi awal dari industri dalam negeri yang lebih kuat yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sektor migas nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar global," ungkapnya.

Dengan membangun kapabilitas industri ini di dalam negeri, pemerintah sedang menyiapkan fondasi bagi industri yang berorientasi ekspor. Pemerintah memberikan dukungan penuh atas inisiatif ini, termasuk proses alih teknologi yang sangat penting antara kedua perusahaan.

"Kami yakin Nota Kesepahaman ini akan memperkuat fondasi industri Indonesia dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, khususnya di bidang teknologi maju seperti material baja eksotik yang diperkenalkan oleh Tubacex Group," tutup dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya