Makna Lagu Another Brick in the Wall Part 2 dari Pink Floyd, Kritik terhadap Sistem Pendidikan yang Represif

Kali ini kami akan membongkar makna lagu “Another Brick In The Wall Part 2” dari Pink Floyd yang mewakili kritik, dinding emosional, dan simbol perlawanan. Yuk ikuti selengkapnya.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 11 Juni 2025, 14:30 WIB
Foto Pink Floyd yang dimuat dalam majalah Hit Parader edisi Juli 1968. Namun, foto ini diambil sekitar tahun 1967. (Via Wikimedia Commons/Hit Parader magazine/Public Domain)

Liputan6.com, JakartaAnother Brick in the Wall Part 2” bukan sekadar lagu rock klasik yang lekat dengan irama musik disko dan paduan suara anak-anak yang ikonik. Makna lagu ini adalah protes penuh sindiran terhadap sistem pendidikan yang represif, sekaligus menjadi bagian penting dari konsep besar album The Wall (1979) milik Pink Floyd,

Album tersebut diibaratkan sebagai sebuah narasi musikal yang menggambarkan keterasingan, trauma, dan upaya perlindungan diri melalui pembangunan “dinding” emosional.

Roger Waters, personel Pink Floyd sekaligus penulis utama lagu ini, mengambil inspirasi dari pengalaman masa kecilnya saat bersekolah di Cambridgeshire School for Boys. Ia merasakan pendidikan di era 1950-an di Inggris sebagai sesuatu yang kaku dan menindas.

Para guru pada era itu lebih sibuk menjaga ketertiban dibanding benar-benar mendidik murid. Dalam wawancara dengan Mojo pada 2009, Roger Waters menyatakan bahwa lagu ini bukan sekadar anti-pendidikan, tetapi “sebuah pemberontakan terhadap pemerintah yang salah arah dan orang-orang berkuasa yang tidak pantas.”

Meski begitu, Waters menegaskan bahwa ia sangat mendukung pendidikan. Satu hal yang ditentang olehnya adalah sistem yang menciptakan penindasan alih-alih pembelajaran.

Maka, tak heran jika baris lirik yang paling terkenal, "We don't need no education," ditulis dengan sengaja dalam bentuk double negative sebagai bentuk ironi linguistik dan kritik terhadap kualitas pengajaran masa itu.

 


“Brick” Sebagai Simbol Trauma dan Paduan Suara Anak-Anak

Sebuah manekin yang memegang megafon ditampilkan dalam pameran Pink Floyd di Roma, Italia (16/1). Sebanyak 350 obyek dan artefak akan ditampilkan, termasuk peralatan musik dan karya-karya seni untuk album maupun pentasnya. (AP Photo / Gregorio Borgia)

Konsep utama dari album The Wall adalah pembangunan dinding metaforis sebagai bentuk perlindungan diri. Setiap kejadian traumatis dalam hidup sang tokoh utama, Pink (yang merupakan alter ego dari Waters), digambarkan sebagai “batu bata” dalam dinding tersebut. Guru sekolah hanyalah satu dari sekian banyak "batu bata" lain, termasuk kehilangan ayah di Perang Dunia II, pengkhianatan, dan tekanan popularitas.

Lagu “Another Brick in the Wall (Part 2)” menjadi bagian dari rangkaian naratif yang berawal dari “Part 1” dan “The Happiest Days of Our Lives,” lalu berlanjut ke “Part 3” yang menandai titik retret total sang tokoh dari dunia luar.

Lanjut Baca:

Salah satu elemen paling mencolok dari lagu ini adalah paduan suara anak-anak yang direkam dari sekolah di Islington, London. Produser Bob Ezrin, yang juga pernah melibatkan anak-anak dalam lagu “School’s Out” milik Alice Cooper, mengusulkan ide ini. Suara 23 anak yang di-overdub hingga terdengar seperti paduan suara besar inilah yang membuat Waters yakin lagu ini akan berhasil. Tak hanya itu, Ezrin juga menyarankan penggunaan beat bergaya disko yang terinspirasi dari grup Chic. Keputusan ini sempat mengejutkan banyak penggemar karena Pink Floyd dikenal sebagai band yang lebih cocok untuk didengarkan ketimbang dijogeti. Namun, justru keberanian bereksperimen inilah yang membuat lagu ini jadi salah satu hit terbesar Pink Floyd.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya