Liputan6.com, Jakarta Aktivitas remaja zaman sekarang tak bisa lepas dari ponsel termasuk media sosial di dalamnya. Mulai dari bangun hingga sebelum tidur kerap mengecek Instagram, X, TikTok dan berjam-jam tanpa terasa.
Aktivitas di media sosial bisa membawa dampak positif dan negatif seperti disampaikan pakar kesehatan masyarakat Prof Siswanto Agus Wilopo.
Advertisement
“Sosial media sejak lama sebenarnya menjadi faktor penting. Persoalannya media sosial itu bisa positif bisa negatif. Saat ini masing-masing individu tidak terlalu selektif dalam melihat informasi itu sehingga banyak negatifnya itu lebih diserap oleh anak-anak sekarang,” kata Siswanto beberapa waktu lalu.
Saat berselancar di media sosial, remaja dengan mudah memperoleh akses terhadap berbagai macam informasi. Namun, tanpa kemampuan untuk menyaring informasi atau konten justru dapat memberikan dampak buruk pada kondisi psikologis remaja.
“Kalau terlalu banyak informasi yang masuk tapi tidak ada filter, ini salah satu hal yang bisa menjadikan stres,” kata Siswanto mengutip laman UGM.
Salah satu sumber tekanan dari media sosial salah satunya pemahaman remaja terhadap gambaran diri atau body image. Banyak yang menjadikan konten-konten media sosial sebagai standar nilai sosial, khususnya yang berkaitan dengan penampilan.
Standar yang muncul di Instagram maupun TikTok sering menimbulkan tekanan pada remaja untuk ikut serta seperti itu. Jika tidak mampu mencapai hal tersebut rentan merenggut rasa percaya diri.
Peka Pilih Konten Positif Jauhkan yang Negatif
Untuk menghindari ikut-ikutan serta dan dampak negatif dari media sosial, Siswanto mengajak remaja dan anak muda untuk peka memilih informasi positif dan negatif.
Penting juga memiliki resiliensi atau daya lenting agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang muncul dari media sosial.
“Kalau kita menggunakan pengalaman anak remaja sekarang, yang namanya cantik itu di dalam pikiran mereka kan seperti model-model yang badannya kurus, dan lainnya. Dalam hal ini kuncinya adalah ketahanan dari masing-masing individu, bagaimana menghadapi informasi yang buruk dan tidak membiarkannya mempengaruhi diri kita,” jelasnya.
Komunikasi Remaja dengan Orangtua
Upaya lain untuk mencegah remaja tak tertekan, terpengaruh serta ikut-ikutan dari apa yang ada di media sosial adalah komunikasi remaja dengan orangtua.
“Peran orang tua secara langsung harus menjalin komunikasi. Orang tua juga harus bisa melihat indikator-indikator apakah anaknya itu positif atau negatif,” kata Siswanto.