Pratama Widya Perkirakan Anggaran Capex Meningkat pada 2026

PT Pratama Widya Tbk (PTPW) memperkirakan kebutuhan belanja modal pada tahun 2026 akan meningkat drastis hingga mencapai Rp120 miliar, naik sekitar tiga kali lipat dibandingkan anggaran tahun 2025 yang hanya Rp40 miliar.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 10 Juni 2025, 10:36 WIB
Pekerja melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/7/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Pratama Widya Tbk (PTPW) memperkirakan kebutuhan belanja modal pada tahun 2026 akan meningkat drastis hingga mencapai Rp120 miliar, naik sekitar tiga kali lipat dibandingkan anggaran tahun 2025 yang hanya Rp40 miliar.

Peningkatan ini dipicu oleh rencana operasional pabrik tiang pancang milik perusahaan di Batam pada tahun depan. Meski begitu, jumlah anggaran tersebut masih dapat berubah, tergantung pada perkembangan kondisi ekonomi, khususnya di sektor konstruksi.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (10/6/2025), manajemen menyampaikan kebutuhan modal kerja akan melonjak signifikan seiring dimulainya aktivitas produksi pabrik tersebut, yang akan memerlukan pembelian bahan baku seperti batu, pasir, dan semen dalam jumlah besar.

Sementara itu, pendapatan perusahaan pada tahun 2024 mengalami penurunan sekitar 6 persen menjadi Rp371,97 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian politik selama masa pemilihan presiden, yang berdampak pada harga proyek antar perusahaan konstruksi.

Selain itu, kontribusi anak usaha terhadap pendapatan juga ikut menurun menjadi Rp61,51 miliar. Hal ini disebabkan oleh fokus anak usaha yang hanya memproduksi readymix, yang memiliki margin keuntungan lebih kecil dibandingkan lini jasa konstruksi.

Untuk mengatasi penurunan kinerja tersebut, perusahaan akan mengalihkan fokus penjualan dari sektor BUMN ke sektor swasta guna meningkatkan pemasukan.

Perusahaan juga mulai merambah ke sektor industri baru melalui skema kerja sama seperti Joint Operation dan Joint Venture, sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis.

Salah satu contohnya adalah proyek Joint Operation pada 2023 untuk pembangunan Batching Plant produksi readymix di Penajam, Kalimantan Timur.

Ke depan, perusahaan juga berencana mengembangkan kompetensi baru di bidang konstruksi, termasuk dalam teknologi micro tunneling, yaitu teknik pembangunan terowongan kecil di bawah tanah untuk keperluan sistem pengolahan limbah.

 

 

 

Prediksi IHSG Hari Ini 10 Juni 2025, Berpotensi Menguat Usai Libur Panjang

Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan koreksi tetapi ada potensi penguatan terbatas pada perdagangan Selasa, (10/6/2025). IHSG berpotensi melemah ke posisi 6.713-7.009.

IHSG naik 0,63% ke posisi 7.113 pada perdagangan Kamis, 5 Juni 2025. Penguatan IHSG dinilai masih didominasi oleh volume pembelian tetapi tertahan oleh moving average (MA) 200 harian.

"Saat ini, posisi IHSG diperkirakan berada pada awal wave (b) dari wave B pada label hitam. Hal tersebut berarti, IHSG rawan melanjutkan koreksi ke rentang area 6.713-7.009,” kata Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana dalam catatannya.

Ia mengimbau untuk mencermati ada peluang penguatan IHSG hari ini untuk menguji 7.144-7.152. Herditya menuturkan, IHSG akan berada di level support 7.009,6.945 dan level resistance 7.263,7.324 pada Selasa pekan ini.

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support dan level resistance 7.000-7.160.

 

Rekomendasi Saham

Pengendara mobil dan sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Sebanyak 205 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk rekomendasi saham hari ini, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Sedangkan Herditya memilih saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya