BMKG Ungkap Penyebab Gempa Pangandaran Magnitudo 5,0

Daryono menjelaskan, gempa tersebut termasuk jenis gempa menengah yang disebabkan oleh aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng. Mekanisme yang terdeteksi adalah oblique thrust, yakni kombinasi antara pergerakan naik dan geser.

oleh Nila Chrisna YulikaDiperbarui 10 Juni 2025, 07:39 WIB
Gempa magnitudo 5 mengguncang wilayah Pangandaran Jawa Barat, Selasa (22/10/2024) pukul 19.43.53 WIB. (Foto: BMKG).

Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi dengan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah tenggara Pangandaran, Jawa Barat, pada Senin malam, 9 Juni 2025, tepatnya pukul 23.55 WIB. Guncangan gempa turut dirasakan di sejumlah daerah Jawa Tengah seperti Cilacap, Kebumen, hingga Banyumas.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa berasal dari aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng, bukan dari patahan aktif di permukaan.

"Gempa terjadi pada pukul 23.55 WIB. Berdasarkan hasil analisis BMKG, parameter gempa terkini menunjukkan magnitudo 5,0," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Selasa dini hari, seperti dikutip dari Antara.

BMKG mencatat, episenter gempa terletak pada koordinat 8,09 derajat Lintang Selatan dan 108,71 derajat Bujur Timur, sekitar 49 kilometer tenggara Pangandaran, dengan kedalaman 70 kilometer.

Daryono menjelaskan, gempa tersebut termasuk jenis gempa menengah yang disebabkan oleh aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng. Mekanisme yang terdeteksi adalah oblique thrust, yakni kombinasi antara pergerakan naik dan geser.

Gempa jenis ini umum terjadi di zona subduksi, tempat lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, dan menjadi penyebab utama aktivitas seismik di kawasan selatan Jawa.

 

Guncangan Dirasakan di Pangandaran hingga Cilacap dan Kebumen

BMKG melalui pemetaan guncangan mencatat intensitas gempa mencapai III MMI di wilayah Pangandaran, yang artinya getaran terasa di dalam rumah dan membuat benda ringan bergoyang. Di beberapa daerah lain seperti Tasikmalaya, Cilacap, Garut, Banyumas, dan Kebumen, guncangan dirasakan pada skala II–III MMI.

"II-III MMI atau guncangan dirasakan nyata di dalam rumah dan seolah-olah ada truk yang melintas," lanjut Daryono.

BMKG memastikan bahwa gempa Pangandaran tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 00.20 WIB, belum tercatat adanya gempa susulan, dan tidak ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Masyarakat diharapkan menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Pastikan rumah atau bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa atau tidak mengalami kerusakan yang membahayakan sebelum kembali masuk ke dalamnya," pungkas Daryono.

Sebagai salah satu wilayah rawan gempa karena berada di jalur Cincin Api Pasifik, masyarakat di sepanjang pesisir selatan Jawa diimbau untuk memahami potensi bahaya gempa yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat interaksi lempeng bumi di bawah Samudra Hindia.

Infografis BMKG Sebut Gempa Megathrust di Indonesia Tinggal Tunggu Waktu. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya