Liputan6.com, Kairo - Tiga muslim asal Spanyol menunaikan ibadah haji dengan menunggang kuda, melintasi ribuan kilometer dalam kondisi salju dan hujan, menyusuri jalur yang mereka klaim belum pernah dilalui selama lebih dari 500 tahun.
Abdelkader Harkassi Aidi, Tarek Rodriguez, dan Abdallah Rafael Hernandez Mancha memulai perjalanan dari wilayah selatan Spanyol pada Oktober lalu. Mereka menunggangi kuda melintasi Prancis, Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, dan Yordania, sebelum tiba di Arab Saudi pada Mei 2025.
Advertisement
Saat sampai di Makkah, momen itu terasa sangat emosional bagi ketiganya. Mereka mengatakan, tidak ada jemaah haji yang menempuh rute seperti ini sejak tahun 1491.
Harkassi menuturkan bahwa jalur yang mereka tempuh dari Spanyol membawa mereka melintasi sekitar 8.000 kilometer sebelum akhirnya mencapai Kakbah di Masjidil Haram di Makkah.
"Kami telah menempuh begitu banyak kilometer untuk sampai ke sana dan Allah telah mengabulkan keinginan kami," ujarnya kepada Associated Press pada Kamis (5/6) dari Arafah.
"Kami berada di depan Kakbah dan punya kesempatan untuk menyentuhnya. Jadi, 8.000 kilometer itu seolah-olah tak berarti apa-apa."
Catatan Perjalanan
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan itu, mereka melewati pemandangan alam yang indah dan berbagai situs bersejarah di Suriah, termasuk Benteng Aleppo dan Masjid Umayyah.
Mereka juga menemukan rel kereta tua yang dibangun pada masa Kekaisaran Ottoman dan pernah menghubungkan Istanbul dengan Arab Saudi. Rel itu mereka ikuti selama beberapa hari sebagai panduan menuju tujuan.
Namun, perjalanan juga penuh tantangan. Mereka sempat kehilangan kuda-kuda mereka di Bosnia, dan baru menemukannya kembali di sebuah zona ladang ranjau. Tak seorang pun bisa mengambil kuda-kuda itu karena adanya bahan peledak, tetapi menurut Harkassi, hewan-hewan itu akhirnya berhasil keluar dari area tersebut tanpa mengalami cedera.
"Elemen kemanusiaan dari perjalanan ini adalah hal yang paling berharga bagi kami," tambahnya.
"Ketika kami tidak memiliki apa-apa, orang-orang membantu kami ... Orang-orang benar-benar luar biasa. Saya pikir ini adalah bukti bahwa umat Islam itu bersatu, bahwa ummah (bangsa) yang satu—yang selalu didambakan oleh setiap muslim—benar-benar ada."