OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Instrumen Investasi Ini Bisa Dilirik

OECD prediksi permintaan domestik akan mulai pulih pada semester II 2025-2026. Namun, risiko eksternal masih membayangi.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 08 Juni 2025, 06:00 WIB
Kebijakan buyback saham merupakan pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam laporan awal Juni 2025. Untuk 2025, proyeksi terbaru OECD berada di level 4,7% YoY, sementara untuk 2026 menjadi 4,8% YoY. Angka ini turun 0,2 percentage point dibandingkan proyeksi pada Maret 2025.

Pemangkasan ini menjadi yang kedua kalinya dari OECD sepanjang tahun berjalan. Sebelumnya, pada Maret 2025, OECD juga telah menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Koreksi beruntun ini menunjukkan adanya kekhawatiran atas prospek ekonomi RI dalam jangka menengah.

"Downgrade dari OECD menandai perlunya kewaspadaan ekstra, terutama karena pemangkasan dua kali dalam setahun jarang terjadi dan menunjukkan risiko ekonomi yang terus meningkat,” ujar tim riset Stockbit Sekuritas, dikutip Sabtu (7/6/2025).

Bukan Hanya Global, Masalah Domestik Lebih Menekan

Meski pertumbuhan ekonomi global juga dipangkas menjadi 2,9% YoY untuk 2025 dan 2026—OECD menekankan koreksi terhadap prospek Indonesia lebih disebabkan oleh faktor domestik. Di antaranya adalah tekanan pada konsumsi rumah tangga dan investasi swasta akibat ketidakpastian fiskal dan suku bunga tinggi.

OECD juga mencatat dampak dari kebijakan tarif impor AS terhadap Indonesia tergolong terbatas. Lantaran, kontribusi ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 2% dari PDB nasional. Ini menegaskan bahwa faktor domestik menjadi penyebab utama pelemahan pertumbuhan ekonomi RI.

"Pelemahan sentimen bisnis dan konsumen serta tingginya biaya pinjaman menjadi faktor signifikan yang membatasi konsumsi dan investasi domestik dalam jangka pendek,” kata tim riset Stockbit Sekuritas.

 

Risiko Eksternal Bayangi Pemulihan Domestik

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

OECD meskipun memproyeksikan permintaan domestik akan mulai pulih pada paruh kedua 2025 hingga 2026, beberapa risiko eksternal masih membayangi. Di antaranya adalah meningkatnya tensi dagang global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat potensi arus keluar modal.

OECD memperkirakan inflasi Indonesia akan naik menjadi 2,3% pada 2025 dan 3% pada 2026, setelah berakhirnya efek diskon tarif listrik serta dampak depresiasi rupiah. Selain itu, prospek belanja investasi publik melalui dana BPI Danantara diharapkan bisa menjadi katalis pemulihan, namun masih tergantung pada implementasinya.

“Risiko capital outflow dan imported inflation masih tinggi, apalagi jika ketidakpastian global dan domestik tidak segera mereda,” ungkap tim riset Stockbit Sekuritas.

Stimulus Jangka Pendek dan Peluang Investasi

Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% YoY pada 2025. Namun, capaian di kuartal I 2025 baru menyentuh +4,87% YoY, di bawah ekspektasi. Kondisi ini memaksa Bank Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 4,6–5,4%, turun dari sebelumnya 4,7–5,5%.

Stockbit Sekuritas menilai bahwa paket stimulus ekonomi jilid 2 yang diluncurkan selama libur sekolah Juni–Juli 2025 berpotensi menopang pertumbuhan jangka pendek. Dalam jangka panjang, arah belanja pemerintah, pengelolaan dana Danantara, dan potensi penurunan suku bunga menjadi elemen kunci pemulihan.

"Memiliki portofolio terdiversifikasi di berbagai kelas aset dapat meminimalkan dampak volatilitas, dan dengan prospek penurunan suku bunga, obligasi pemerintah tenor pendek bisa jadi opsi menarik,” tutur tim riset Stockbit Sekuritas, merekomendasikan SR022–T3 (yield 6,45%), PBS003 (~5,93%), dan PBS032 (~5,73%).

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya