Liputan6.com, Semarang - Industri musik digital memiliki ekosistem yang berbeda dengan industri musik analog. Transformasi dari piringan hitam, kaset, CD, hingga file, membutuhkan adaptasi secara cepat. Pun dengan perangkat untuk memutarnya. Pada tahun 2020, JQ Composey, bagian dari Ircomm Group mulai merambah bisnis ini. Dalam lima tahun usia mereka, perusahaan ini mengelola lebih dari 500 karya musik dari seluruh penjuru negeri.
Menurut Isra Ruddin, President Director & CEO, JQ Composey & Ircomm Group, pihaknya berusaha menjadi jembatan kreativitas musisi dengan dunia. Fokus utamanya selain sebaran, juga perlindungan hak cipta dan kerja sama dengan berbagai platform global seperti Meta, TikTok, Google, YouTube, hingga ByteDance. "Bersama Wahana Musik Indonesia (WAMI) dan Asosiasi Prakarsa Antar Musik Publishing Indonesia (PAMPI), kami memastikan karya musik Indonesia tak hanya didengar saja, namun dihargai secara profesional dalam industri digital," kata Isra.
Advertisement
Ditambahkan, peran mereka melampaui sekadar pengelolaan hak cipta musik. Mereka ingin menjadi rumah aman bagi pencipta lagu, tempat karya mereka dilindungi dan didengar dunia. Dengan teknologi dan kolaborasi serta mendampingi musisi dari ide awal hingga ke panggung global,” katanya.
Sementara itu, Nurhayati Abdul Azis, Presiden Komisaris JQ Composey & Ircomm Group menyatakan bahwa tidak mudah untuk meraih kepercayaan. "Dengan lebih dari 500 lagu yang dipercayakan kepada kami. Itu adalah bukti kebersamaan kami dengan para pencipta,” katanya.
Saat ini, JQ Composey meluncurkan kompetisi cipta lagu digital bertajuk “Compose Your Vibes with JQ Composey”. Program ini mengundang musisi muda untuk berkreasi, menawarkan hadiah smartphone 4G dan peluang eksposure di platform digital. Muhammad Sofiyansah, manajer partnership dan operasional, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk menggali talenta baru sekaligus memperkuat ekosistem musik yang lestari.