Liputan6.com, Jakarta Komitmen Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam memberdayakan UMKM dinilai berhasil mendorong pelaku usaha naik kelas. Upaya ini sekaligus mendukung percepatan swasembada pangan di Jatim yang menjadi salah satu fokus pembangunan daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim menyampaikan pihaknya telah melihat langsung program Khofifah menciptakan dampak signifikan terhadap perkembangan UMKM. Menurutnya, UMKM di Jatim memiliki daya saing kuat yang mendukung ketahanan ekonomi daerah.
Advertisement
"Setelah melihat dan mendampingi Ibu Gubernur Khofifah, bagaimana produk-produk UMKM di Jawa Timur sangat luar biasa," ujar Ibrahim dikutip Rabu (4/6/2025).
Dia menambahkan potensi UMKM di berbagai sektor perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk mendorong kontribusi tidak hanya dalam ekonomi, tetapi juga dalam penyediaan pangan nasional.
Menurut dia penguatan UMKM di sektor pertanian, peternakan, dan olahan pangan akan berperan penting dalam mendukung target swasembada. Lewat pengelolaan yang tepat, Jatim konsisten jadi lumbung pangan nasional.
"Potensi-potensi yang ada inilah yang juga perlu untuk terus dikembangkan," imbuhnya.
Perhatian Terhadap Pengembangan UMKM
Dia menilai Khofifah memiliki perhatian serius terhadap pengembangan UMKM berbasis potensi lokal. Program pendampingan, pembiayaan, hingga perluasan pasar dijalankan secara terukur untuk memastikan UMKM tumbuh melesat.
Maka dia menegaskan BI akan terus bersinergi dengan pemerintah provinsi dalam mendorong inovasi, digitalisasi, dan akses pembiayaan UMKM. Dukungan lintas sektor jadi kunci UMKM naik kelas dan berkontribusi mewujudkan ketahanan pangan nasional.
"Ini juga turut mendukung Jawa Timur menjadi swasembada pangan bagi nasional," jelasnya.
Tren pertumbuhan ekonomi di sektor UMKM Jawa Timur terus berkembang secara progresif. Kontribusi UMKM terhadap PDRB Jawa Timur konsisten meningkat pesat.
Pada 2020, kontribusi koperasi dan UMKM pada PDRB Jatim ada di angka 57,25% atau mencapai Rp 1.316 Trilliun. Kembali meningkat pada 2021 jadi 57,81% atau Rp 1.418,9 Trilliun dan di 2022 melesat jadi 58,36% atau pada Rp 1.593,67 Trilliun.