Legenda Urban: Mitos Lembu Suro dan Kaitannya dengan Ritual Wage Keramat di Gunung Kelud

Lembu Suro memiliki keterkaitan dengan cerita legenda masa lalu. Dahulu, ada seorang putri Kediri bernama Dewi Kili Suci yang merupakan putri Raja Erlangga pemimpin di Kerajaan Kediri saat itu.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 06 Juni 2025, 03:00 WIB
Letusan Gunung Kelud dari angkasa. (NASA)

Liputan6.com, Kediri - Gunung Kelud di Jawa Timur menyimpan cerita legenda urban terkait mitos Lembu Suro. Konon, Lembu Suro menjadi cikal bakal pelaksanaan tradisi wage keramat.

Lembu Suro memiliki keterkaitan dengan cerita legenda masa lalu. Dahulu, ada seorang putri Kediri bernama Dewi Kili Suci yang merupakan putri Raja Erlangga pemimpin di Kerajaan Kediri saat itu.

Dewi Kili Suci memiliki paras cantik dan dikenal sebagai seorang petapa di negeri tersebut. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bertapa di Gua Selomangkleng yang berada di sisi barat Kediri.

Berita tentang kecantikan Dewi Kili Suci tersebar hingga ke berbagai penjuru negeri. Para lelaki pun berminat mempersunting sang putri.

Tak terkecuali dua raja yang berkuasa pada waktu itu, Lembu Suro dan Mahesa Suro. Sesuai julukannya, Lembu Suro digambarkan sebagai seorang raja dengan kepala berbentuk lembu. Sementara itu, Mahesa Suro memiliki kepala berbentuk kerbau.

Kedua raja tersebut berniat meminang Dewi Kili Suci sebagai permaisuri. Dewi Kili Suci kemudian memberikan syarat kepada Lembu Suro dan Mahesa Suro untuk membuat dua buah sumur di atas puncak Gunung Kelud dalam waktu satu malam. Bukan sekadar sumur, kedua raja itu juga harus membuat masing-masing sumur memiliki aroma wangi dan amis.

Pemberian syarat ini dimaksudkan sebagai bentuk penolakan halus dari Dewi Kili Suci. Sayangnya, perkiraan sang putri salah. Lembu Suro dan Mahesa Suro berhasil menyelesaikan kedua sumur tersebut sebelum ayam berkokok.

Dewi Kili Suci kemudian meminta kedua raja tersebut untuk masuk ke dalam sumur yang sudah mereka buat. Tujuannya untuk membuktikan bahwa sumur tersebut memiliki aroma wangi dan amis.

 

Maksud Lain

Namun di sisi lain, Dewi Kili Suci memiliki maksud lain. Ketika Lembu Suro dan Mahesa Suro sudah masuk ke dalam sumur tersebut, Dewi Kili Suci meminta prajuritnya untuk menimbun kedua raja tersebut dengan batu dan tanah.

Lembu Suro dan Mahesa Suro pun tak bisa berbuat apa-apa. Namun, Lembu Suro sempat mengucapkan sumpah untuk membalaskan dendamnya di kemudian hari dengan menjadikan Kediri sebagai sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung menjadi danau.

Cerita dan sumpah Lembu Suro akhirnya diwariskan secara turun-temurun dan dipercaya hingga sekarang. Masyarakat percaya bahwa sumpah tersebut adalah dendam abadi yang sewaktu-waktu dapat terbukti melalui letusan Gunung Kelud.

Untuk melindungi masyarakat dari amarah Lembu Suro, masyarakat rutin melaksanakan tradisi upacara wage keramat. Tradisi ini diadakan di kawah Gunung Kelud setiap pasaran Wage di bulan Suro dalam penanggalan kalender Jawa. Pasaran Wage dipilih karena masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Kelud percaya bahwa gunung ini sewaktu-waktu akan meletus pada pasaran Wage.

Hingga kini, ritual wage keramat masih menjadi upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat di lereng Gunung Kelud. Ritual ini meliputi prosesi membawa hasil bumi ke lereng gunung dan melarungkannya ke kawah gunung sebagai tanda syukur.

Penulis: Resla

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya