Liputan6.com, Jakarta Wakil Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, kembali mengunjungi rumah calon siswa Sekolah Rakyat di kawasan Tanah Sereal, Kota Bogor.
Hal ini dilakukan usai dirinya meninjau calon siswa Sekolah Rakyat di Kota Bekasi, Selasa 3 Juni 2025.
Advertisement
Sesampainya di Tanah Sereal, Qodari disambut seorang ibu yang merupakan buruh harian lepas yang mengandalkan penghasilan dari mengupas bawang putih.
Setiap hari, ibu tersebut mengupas tiga karung bawang dengan upah hanya Rp10.000 per karungnya.
Dalam perbincangan yang penuh empati, Qodari menyampaikan kekagumannya atas perjuangan seorang ibu demi pendidikan anaknya.
"Biaya pendidikan dan kebutuhan hidup Ananda Arya (calon siswa sekolah rakyat) selama satu tahun di Sekolah Rakyat setara dengan ibunya mengupas bawang setiap hari selama empat setengah tahun. Untuk menyelesaikan jenjang SMP selama tiga tahun, artinya setara dengan 13,5 tahun kerja tanpa henti. Jika sampai lulus SMA, itu setara dengan 27 tahun mengupas bawang setiap hari,” ujar Qodari, dalam keterangannya, Rabu (4/6/2025).
Ia menegaskan, kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan bukti nyata bahwa negara hadir untuk masyarakat paling membutuhkan.
Seluruh kebutuhan siswa mulai dari pendidikan, tempat tinggal, hingga makanan bergizi ditanggung negara. Nilainya ditaksir mencapai Rp50 juta per anak per tahun.
Buka Harapan
"Jumlah itu, jika disetarakan dengan upah seorang pengupas bawang, sama dengan mengupas 5.000 karung bawang, atau setara dengan 3,5 tahun bekerja penuh tanpa henti. Ini bukan sekadar angka, tetapi gambaran nyata bagaimana negara hadir meringankan beban rakyat kecil," jelas Qodari.
Menurutnya, Sekolah Rakyat adalah bentuk keajaiban sosial yang membuka harapan dan mengubah masa depan anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Qodari juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai kementerian dan lembaga yang mendukung program ini.
"Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Kementerian Sosial, Kementerian PUPR, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Agama. Program ini bukan hanya menyentuh, tetapi benar-benar menyelamatkan," kata dia.
Kunjungan itu menjadi simbol bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak Indonesia, termasuk mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit.
"Program ini memberikan dampak nyata yang sangat besar bagi kehidupan rakyat Indonesia, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan," tutup Qodari.