Liputan6.com, Jakarta Disutradarai dan ditulis oleh Adriyanto Dewo, Sampai Jumpa, Selamat Tinggal merupakan proyek kolaborasi Adhya Pictures dan Relate Films. Ceritanya menggambarkan dinamika cinta yang sangat kompleks, termasuk pengalaman ghosting dan hubungan toxic yang membekas lama. Film ini juga memperlihatkan sisi Korea Selatan yang berbeda dari gambaran mainstream drama Korea.
Sinopsisnya bermula ketika Wyn, diperankan oleh Putri Marino, ditinggalkan tanpa kejelasan oleh kekasihnya, Dani (Jourdy Pranata). Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Dani berada di Korea Selatan. Tanpa pikir panjang, Wyn memutuskan untuk mencarinya. Di Korea, ia bertemu Rey (Jerome Kurnia), seorang pekerja migran asal Indonesia yang kemudian membantu pencarian. Perjalanan mereka mempertemukan Wyn dengan karakter-karakter unik seperti Anto (Kiki Narendra) dan Vanya (Lutesha), gangster perempuan yang membawa konflik baru dalam pencarian tersebut.
Advertisement
Daftar pemeran dalam film ini terbilang kuat dan berbeda dari peran-peran mereka sebelumnya. Putri Marino membawakan karakter Wyn yang rapuh tapi berani. Jerome Kurnia menampilkan Rey dengan gestur tenang namun penuh luka. Jourdy Pranata memainkan sosok Dani yang menyisakan banyak pertanyaan, sedangkan Lutesha tampil standout sebagai Vanya, karakter dominan yang penuh warna. Kiki Narendra melengkapi jajaran dengan karakter Anto yang menjadi sosok netral di tengah para tokoh yang bermasalah.
Makna judul Sampai Jumpa, Selamat Tinggal pun tidak dibuat sembarangan. Menurut sang sutradara, ada filosofi mendalam di baliknya. “Sampai jumpa” adalah kalimat yang mengandung harapan akan pertemuan kembali, sedangkan “selamat tinggal” mencerminkan keikhlasan untuk benar-benar melepaskan seseorang dari hidup kita. Dua frasa ini mewakili dua jenis perpisahan yang kerap dihadapi manusia.
Lokasi Syuting Antimainstream
Yang menarik, film ini memilih Korea Selatan sebagai latar cerita, namun tidak menampilkan area populer seperti Seoul atau Busan. Lokasi syuting dilakukan di kota-kota industri seperti Seosan dan Dangjin, yang terletak di pesisir barat Korea Selatan. Kawasan ini menyuguhkan suasana melankolis, sepi, dan sedikit suram cocok dengan tone film yang menyoroti emosi kehilangan dan pencarian identitas diri.