Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur 1,5% ke posisi 7.065,06 pada perdagangan saham Senin, 2 Juni 2025. IHSG koreksi saat investor asing jual saham Rp 2,8 triliun.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/6/2025), IHSG menyentuh level tertinggi 7.152,91 dan level terendah 7.035,83. Total volume perdagangan saham mencapai 25,91 juta saham dengan nilai transaksi Rp 22,22 triliun.
Advertisement
Transaksi harian jumbo itu seiring di pasar negosiasi, pasar negosiasi, transaksi harian saham AMMN mencapai Rp 3,3 triliun dengan frekuensi perdagangan dua kali. Harga saham AMMN terakhir ditransaksikan di posisi Rp 6.925 per saham. Harga saham AMMN berada di level tertinggi Rp 7.000 dan terendah Rp 6.925 per saham dengan volume perdagangan 4.775.133 saham.
Sebanyak 453 saham memerah sehingga menekan IHSG. 195 saham menguat dan 161 saham diam di tempat.
Sementara itu, kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 12,25 triliun. Investor asing kembali melakukan aksi jual jumbo. Tercatat aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 2,8 triliun. Sepanjang 2025, investor asing mencapai Rp 47,99 triliun.
Berikut 10 saham yang dilepas investor asing sehingga IHSG tersungkur pada awal pekan ini yang dikutip dari Stockbit:
1.PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 1,07 triliun
2.PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 602,60 miliar
3.PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 325,74 miliar
4.PT Astra International Tbk (ASII): Rp 211,99 miliar
5.PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Rp 111,55 miliar
6.PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp 94,92 miliar
7.PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 86,58 miliar
8.PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Rp 78,65 miliar
9.PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 51,96 miliar
10.PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 42,10 miliar
Sentimen IHSG 2 Juni 2025
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menuturkan, Bursa regional Asia didominasi pelemahan seiring terus memanasnya ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China, sementara investor bersikap defensif menjelang data pekerjaan AS, suku bunga Eropa yang diharapkan mengalami penurunan, dan munculnya kekhawatiran terhadap pandemi COVID-19.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami deflasi 0,37 persen month to month (mtm) pada Mei 2025, yang mana terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 108,07 pada Mei 2025.
Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 1,60 persen year on year (yoy) dan inflasi tahun kalender sebesar 1,19 persen year to date (ytd).
BPS juga melaporkan Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 0,16 miliar pada April 2025 atau terendah sejak Mei 2020, berdasarkan perhitungan nilai ekspor sebesar USD 20,74 miliar dikurangi impor sebesar USD 20,59 miliar. Nilai neraca perdagangan April 2025 tercatat jauh lebih rendah dari Maret 2025 yang senilai USD 4,33 miliar.
Sentimen IHSG Lainnya
Di sisi lain, surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mewaspadai peningkatan COVID-19 di Asia juga memicu kekhawatiran bagi pelaku pasar.
Dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump menginformasikan tengah memantau diskusi positif dengan Uni Eropa, yang mana Trump melihat positif gerak cepat dari Uni Eropa yang langsung meminta pertemuan dengan AS, serta melihat Eropa juga melakukan sama dengan yang diminta terhadap China yaitu membuka perdagangan Eropa terhadap AS.
“Namun demikian, pelaku pasar melihat bahwa volatilitas masih akan tinggi khususnya pada periode Juli dan Agustus 2025 nanti, yang merupakan periode akhir dari negosiasi tarif AS dengan negara lain,” ujar Nico panggilan akrabnya seperti dikutip dari Antara.
Pelaku pasar juga menantikan data ekonomi dari AS, di antaranya ISM Manufacturing Index, ADP Employment Change, ISM Services, Trade Balance, Nonfarm Payrolls dan Unemployment Rate.
Dari kawasan Eropa, akan ada rilis data inflasi, keputusan kebijakan moneter Europan Central Bank (ECB) dan penjualan ritel. Sedangkan, dari kawasan Asia, China akan merilis data Caixin Manufacturing PMI dan Caixin Services PMI.