Kenali Perbedaan Pegal Tanda Saraf Kejepit vs Pegal Biasa karena Kelelahan

Pegal tanda saraf kejepit bisa jadi sinyal masalah serius. Kenali gejala dan penanganannya agar tidak terlambat.

oleh Dyah Puspita WisnuwardaniDiterbitkan 02 Juni 2025, 19:00 WIB
tanda saraf kejepit sudah parah ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Kerap merasa pegal di pinggang atau punggung setelah beraktivitas? Penting untuk diketahui bahwa tidak semua pegal hanya sekadar penanda bahwa tubuh tengah kelelahan. Pegal yang disebabkan oleh saraf kejepit, atau radikulopati, bisa menjadi sinyal dari masalah yang lebih serius.

Pegal akibat saraf kejepit berbeda dengan pegal otot biasa. Menurut dr. Irca Ahyar Sp.N, DFIDN dari DRI Clinic, saraf kejepit terjadi ketika saraf tertekan akibat perubahan struktur tulang belakang. “Saraf terjepit tidak akan terjadi jika tidak ada perubahan struktur tulang,” jelasnya.

Gejala saraf kejepit sering kali mirip dengan pegal biasa, namun ada perbedaan mendasar. Pegal biasa umumnya akan hilang setelah istirahat, sementara pegal akibat saraf kejepit cenderung konsisten dan bisa menjalar ke bagian tubuh lain.

Saraf Kejepit Tidak Terjadi Seketika

Saraf kejepit bukanlah kondisi yang muncul dalam semalam. Ada dua penyebab utama, yaitu trauma dan proses degeneratif jangka panjang. Trauma bisa berasal dari jatuh, benturan saat olahraga, atau mengangkat beban berat dengan posisi tubuh yang salah.

Menurut dr. Irca, pergeseran tulang belakang bisa saja terjadi sejak kecil, misalnya karena jatuh dari pohon. Namun, karena tidak dirasakan saat itu, orang tua menganggapnya bukan masalah. Gejala baru muncul saat dewasa ketika aktivitas fisik meningkat.

Kebiasaan buruk seperti duduk membungkuk di depan komputer selama berjam-jam juga dapat memperburuk kondisi tulang. Jika dilakukan terus-menerus, struktur tulang bisa berubah dan menyebabkan penyempitan celah antar ruas tulang, yang menjadi pemicu utama saraf kejepit.

Saraf Kejepit Bisa Dialami Siapa Saja

Siapa pun bisa mengalami saraf kejepit, tidak hanya mereka yang aktif secara fisik. Dari atlet hingga ibu rumah tangga, dari anak-anak hingga lansia, semua memiliki risiko yang sama. Bahkan, faktor genetik seperti skoliosis juga sering kali luput dari perhatian.

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki tulang belakang yang melengkung, karena tidak merasakan gejala apa pun hingga keluhan muncul seiring bertambahnya usia. Di usia 45 tahun ke atas, gejala bisa muncul lebih intens meskipun penyebabnya hanya benturan ringan. Otot-otot yang melemah membuat pergeseran tulang lebih mudah memicu nyeri hebat.

Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala awal seperti pegal, nyeri, atau kesemutan. Jika gejala ini dirasakan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Risiko Serius Jika Diabaikan

Ketika saraf terjepit, bukan hanya nyeri yang muncul, tetapi juga risiko kelumpuhan lokal jika tidak ditangani. Saraf terpanjang dalam tubuh manusia terletak di tulang belakang, dan setiap ruas memiliki tanggung jawab atas fungsi gerak dan raba rasa tubuh. Jika saraf ini terjepit, otot di area yang terpengaruh bisa mengecil dan kehilangan fungsinya.

Misalnya, jika saraf kejepit terjadi di lumbar 3 (L3) yang mengontrol paha, maka otot paha bisa kehilangan fungsinya. “Bila fungsi raba terganggu, saat kaki terluka pun kita tidak akan menyadarinya karena tidak merasa sakit,” ungkap dr. Irca.

Inilah pentingnya tidak menunda pemeriksaan ketika gejala seperti pegal kronis, kesemutan, atau nyeri yang menjalar mulai terasa. Diagnosis dini bisa mencegah kerusakan saraf lebih lanjut dan membantu proses pemulihan yang lebih cepat.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya