Amankan Jemaah Haji 2025 dari Gelombang Panas, Arab Saudi Pasang Pendingin Terbesar di Dunia

Berikut ini rincian langkah yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi untuk melindungi jemaah haji 2025 dari gelombang panas melalui sistem pendingin terbesar sedunia.

oleh Benedikta Miranti T.VDiterbitkan 02 Juni 2025, 18:35 WIB
Cuaca panas ekstrem di Padang Arafah mencapai 45 derajat Celcius. Selain semprotan kabut air yang tersedia di sejumlah tempat, hal ini membuat banyak jemaah haji menggunakan payung untuk melindungi diri dari teriknya sengatan sinar matahari saat wukuf. (AP Photo/Amr Nabil)

Liputan6.com, Mekkah - Menjelang pelaksanaan haji 2025 yang resmi dimulai pada 4 Juni, Pemerintah Arab Saudi memusatkan perhatian pada satu tantangan utama yakni panas ekstrem.

Setelah gelombang panas tahun lalu menewaskan lebih dari 1.300 jemaah—kebanyakan di antaranya tidak memiliki izin resmi dan akses ke fasilitas pendingin—kerajaan kini meningkatkan langkah mitigasi secara besar-besaran demi memastikan keselamatan jutaan jemaah haji.

Hingga 30 Mei, lebih dari 1,3 juta jemaah telah tiba di Mekkah.

Suhu udara diperkirakan kembali melampaui 40 derajat Celsius selama pelaksanaan ibadah tahunan yang menjadi salah satu dari lima rukun Islam.

Arab Saudi mengklaim telah mengoperasikan sistem pendingin terbesar di dunia untuk haji tahun ini. Fasilitas tersebut termasuk lebih dari 400 unit pendingin udara raksasa dan perluasan area teduh hingga 50.000 meter persegi di sekitar area ibadah.

"Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menjadikan haj tahun ini lebih aman," ujar Menteri Haji Saudi, Tawfiq al-Rabiah dalam wawancara dengan AFP, seperti dikutip dari laman Straits Times, Senin (2/6/2025). 

Ribuan tenaga medis juga disiagakan di berbagai titik strategis untuk memberikan penanganan cepat jika ada jemaah yang mengalami gejala kelelahan akibat panas atau dehidrasi.

Manfaatkan Teknologi AI dan Drone

Bandara Internasional Pangeran Mohammed Bin Abdulaziz di Madinah telah menyaksikan jumlah jamaah terbesar yang tiba sejauh ini. "Hal ini membuktikan keinginan jamaah untuk memulai perjalanan mereka di Madinah," ujar Al-Bijawi. (Abdel Ghani BASHIR/AFP)

Lebih dari sekadar pendingin fisik, pemerintah juga memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi drone untuk mengawasi kerumunan serta mendeteksi potensi bahaya.

Sistem ini membantu mengelola aliran informasi dan rekaman video dari seluruh wilayah Mekkah guna mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat.

Langkah ini menjadi penting mengingat kompleksitas logistik ibadah haji yang melibatkan jutaan orang dalam waktu dan lokasi yang sangat terbatas.

Salah satu faktor utama tingginya angka kematian tahun lalu adalah keberadaan jemaah tidak terdaftar yang tidak memiliki akses ke tenda ber-AC, layanan transportasi, atau bantuan medis resmi. Untuk itu, pemerintah meluncurkan kampanye besar-besaran untuk menindak jemaah ilegal.

Melalui patroli drone, razia intensif, dan peringatan SMS, pihak berwenang berusaha mencegah masuknya jemaah tanpa izin resmi. Mereka yang tertangkap tidak hanya dikenai denda dan deportasi, tetapi juga berisiko mendapat larangan masuk ke Arab Saudi selama 10 tahun.

Infografis 3 Kriteria Jemaah Indonesia Dapat Badal Haji Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya