55 Persen Jemaah Haji Indonesia 2025 Perempuan, Amirul Hajj Ingin Libatkan Lebih Banyak Ulama Perempuan

Jumlah jemaah perempuan persentasenya mencapai lebih dari 55 persen atau 118.836 orang dari 213.860 orang jemaah haji reguler.

oleh Dinny MutiahDiperbarui 30 Mei 2025, 23:46 WIB
Suasana kakbah di siang hari. (dok. Liputan6.com/MCH 2025)Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jeddah - Ketua Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa jumlah jemaah perempuan pada tahun ini mendominasi. Persentasenya mencapai lebih dari 55 persen atau 118.836 orang dari 213.860 orang jemaah haji reguler.

Dengan persentase tersebut, ia menilai bahwa keberadaan peran ulama perempuan menjadi sangat dibutuhkan. Pasalnya, banyak fikih haji yang menyangkut perempuan hanya nyaman disampaiken jemaah kepada ulama perempuan.

"Misalnya, kalau sedang menstruasi, apa yang bisa dan tidak bisa. Dan kita tambah (ulama) perempuan, karena hal-hal yang sangat privat itu tidak mungkin ditanya ke ulama (pria)," kata Nasaruddin seusai memimpin rapat koordinasi antara Amirul Hajj dan PPIH Arab Saudi di Kantor Urusan Haji Jeddah, Jumat, 30 Mei 2025.

Namun saat ini, jumlah ulama perempuan yang direkrut sebagai bagian dari Musytasyar Dinny atau pembimbing ibadah masih minim. "Jadi, pertimbangan kami nanti untuk libatkan lebih banyak ulama perempuan yang selama ini hanya beberapa orang kita libatkan," katanya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi yang menjadi satu-satunya perempuan dalam rombongan Amirul Hajj menyatakan pihaknya ke depan ingin agar pelayanan haji menjadi lebih ramah terhadap perempuan. Salah satu yang disorotinya adalah fasilitas sanitasi bagi jemaah haji perempuan.

 

 

Haji yang Lebih Ramah Perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menjadi satu-satunya perempuan dalam keanggotaan Amirul Hajj di musim haji 2025. (dok. MCH 2025)

Ia berharap akan ada lebih banyak fasilitas toilet bagi jemaah perempuan daripada jemaah laki-laki, khususnya di Armuzna nanti. "Karena, durasi yang dibutuhkan wanita untuk ke toilet itu lebih panjang durasi waktunya daripada laki-laki," sambung perempuan yang akrab disapa Arifah itu.

Hal lainnya adalah berkaitan dengan pembimbing ibadah untuk jemaah perempuan. Senada dengan Menag, ia melihat jumlahnya masih belum maksimal.

"Mudah-mudahan tahun depan, di tahun-tahun yang akan datang, bisa disesuaikan jumlah pembimbing atau petugas haji untuk jemaah perempuan sehingga para jemaah perempuan bisa merasakan layanan yang lebih baik lagi," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Hilman Latief menyatakan bahwa belum semua markaz di Armuzna memiliki toilet bertingkat. Fasilitas tersebut disediakan pemerintah Arab Saudi untuk mengatasi antrean panjang jemaah yang perlu buang hajat selama pelaksanaan inti ibadah haji di Armuzna.

"Ada yang sudah dibangun dua lantai sanitasinya, tapi masih ada sanitasinya seperti tahun kemarin. Mungkin bertahap," ujarnya saat menginspeksi tenda jemaah di Mina.

 

 

 

Jemaah Haji Perempuan Diminta Pakai Popok

Ilustrasi jemaah haji perempuan. (dok. MCH 2025)

Musytasyar dinny dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Nyai Badriyah Fayumi menyarankan agar setiap jemaah perempuan memakai popok atau pembalut selama pelaksanaan wukuf nanti, begitu pula saat mabit di Mina, walau sedang tidak haid.

"Untuk menjaga kesucian pakaian kita. Kalau sewaktu-waktu kita kebelet, antrean panjang, atau jalanan macet, atau bahkan kita tidak bisa turun. Kita pernah mengalami peristiwa Muzdalifah yang seperti itu," kata Badriyah dalam tayangan YouTube Kementerian Agama, Sabtu, 24 Mei 2025.

"Dengan menggunakan popok atau pembalut, Insya Alah ini akan sedikit membantu," ujarnya.

Saran mengenakan popok juga dilatari jumlah kamar mandi yang tersedia di Arafah dan Mina. Sementara lelaki bisa buang air kecil di urinoir, perempuan tidak bisa membuang hajatnya demikian. 

Perempuan juga memerlukan waktu lebih lama di kamar mandi dibandingkan laki-laki sehingga waktu antrenya pun lebih lama dibandingkan antrean kamar mandi laki-laki. Dalam kondisi kebelet buang air, kemungkinan stok sabar menipis pun tinggi.

 

Cegah Pertengkaran yang Masuk Larangan Ihram

Ilustrasi suasana melempar jumrah di Jamarat, Mina. (dok. MCH 2025)

"Agar kita tidak terjatuh dalam jidal, tidak terjatuh dalam perdebatan tidak perlu, kita tidak terpancing emosinya, popok atau pembalut ini bisa membantu. Kita tetap antre, kita kebelet, bisa tumpahkan sambil antre. Ketika di dalam, kita tinggal ganti pembalut atau popoknya," ujarnya. "Ini tidak terkait apapun dengan pelanggaran ihram bagi kaum perempuan," imbuhnya.

Jidal termasuk dalam larangan ihram. Jika melakukannya, jemaah haji dikenai kewajiban membayar dam atau fidyah. 

Menukil bincangmuslimah.com, Syeikh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari dalam kitab Fathul Muin menyebutkan pelanggaran selain bersetubuh, dikenakan wajib menyembelih seekor kambing, atau bersedekah 3 sha’ kepada enam orang miskin, atau puasa tiga hari. Boleh memilih di antara tiga denda tersebut.

Selain popok, masalah penggunaan masker saat berihram juga kerap ditanyakan jemaah haji perempuan. Pasalnya, salah satu larangan dalam berihram bagi perempuan adalah menutup wajahnya. 

"Ketika terpaksa menggunakan masker dan itu apalagi dalam keadaan sakit dan supaya tidak menyebar ke jemaah lain, itu dianggap sebagai bagian dari uzur syari," kata Badriyah. Karena uzur syar'i, sambung dia, tidak berdosa jemaah haji perempuan yang memakai masker.

Beda haji ifrad, qiran, dan tamattu. (dok. Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya