Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jakarta Timur, Ahmad Rifa'i, berharap tak ada kader yang memperdagangkan partainya menuju Muktamar X. Ia juga menyuarakan kekecewaan atas langkah-langkah seorang petinggi partai yang dinilai merusak marwah partainya.
"Seolah-olah Partai Ulama ini hanya jadi komoditas jualan yang diobral kemana-mana," ujar Rifa'i, Kamis (29/5/2025), di Condet, Jakarta Timur.
Advertisement
Rifa'i mengenang Pemilu 2019 di saat kader PPP Jakarta Timur sibuk berjuang mendulang suara, tiba-tiba muncul berita bahwa seorang petinggi PPP dicokok KPK karena terima suap untuk jual beli jabatan.
"Bagai petir di siang bolong, dunia kontan terasa gelap. Perjuangan kami berbulan-bulan untuk mempertahankan 4 kursi DPRD dan 1 kursi DPR RI di Jakarta Timur langsung runtuh saat itu juga," ungkap Rifa'i.
"Habis sudah suara kami tahun 2019. Kursi DPRD hilang 3 kursi, DPR RI hancur lebur hilang kursi sama sekali," sesal Rifa'i.
Dia mengungkapkan atas kejadian tersebut, hasil Pemilu PPP 2019 benar-benar hancur dan menjadi awal keterpurukan PPP. Dimana, dari 10 kursi di 2014 hanya tinggal 1 kursi. Dan DPR RI dari 3 kursi menjadi 0 kursi, hilang semuanya.
"Jangan ganggu PPP lagi kalau tidak ingin kualat dengan warisan para Ulama. Biarkan kader bekerja untuk kembalikan kejayaan PPP," pungkas Rifa'i.
Rommy: PPP Butuh Sosok Tokoh dan Tauke Seperti Amran Sulaiman
Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, M Romahurmuziy atau Rommy mengaku telah membujuk berbagai tokoh untuk maju sebagai calon Ketua Umum PPP. Diantaranya adalah Jenderal Dudung Abdurachman hingga Anies Baswedan.
Namun, Rommy mengaku saat ini nama Menteri Pertanian RI atau Mentan, Andi Amran Sulaiman yang paling mencuat untuk maju di Muktamar PPP yang akan digelar September mendatang.
“Saya berusaha membujuk banyak tokoh yang saya nilai mampu, baik karena ketokohannya, maupun ke-tauke-an nya. Karenanya, nama-nama ya g muncul berendeng mulai Pak Sandi Uno, Gus Ipul, Pak Dudung, Pak Marzuki Alie, Pak Agus Suparmanto, sampai Pak Amran. Bahkan Mas Anies Baswedan pun saya pernah bujuk untuk bersedia masuk dan memimpin PPP pada akhir Desember 2024 lalu,” kata Rommy.
Rommy menyebut, target kembali ke Senayan memerlukan logistik yang tak sedikit, maka ia mencari tokoh dan tauke seperti Amran yang merupakan pengusaha besar.
“Untuk kembalinya PPP ke Senayan pada Pemilu 2029 memang mencari tokoh yang sekaligus tauke. Pak Amran adalah seorang pengusaha yang sukses. Hanya kurang publikasi saja atas kesuksesan usahanya,” kata dia.
Rommy mengaku berkali-kali meyakinkan Amran untuk bersedia maju sebagai Caketum. Dirinya harus terbang ke Makassar untuk bertemu Amran.
“Saya sampai harus ke Makasar meyakinkan beliau. Sampai saat ini pun, Pak Amran masih wait and see. Murni disebabkan kesibukan beliau yang memiliki beban berat sebagai tulang punggung program kedaulatan pangan pemerintah,” kata dia.
“Apakah Pak Amran betul akan menjadi Ketum PPP pada Muktamar September 2025 mendatang? Waktu masih cukup panjang untuk kejutan-kejutan lainnya,” sambungnya.