Harmoni Budaya di Desa Rawaapu yang Menyatukan Jawa Banyumasan dan Sunda Ciamis

Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat serta kawasan Segara Anakan. Posisi strategis ini menjadikan Rawaapu sebagai titik temu dua kebudayaan besar, yaitu Jawa Banyumasan dan Sunda Selatan.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 02 Juni 2025, 00:00 WIB
Pantai Kemiren, Destinasi Wisata Cilacap dengan Ombak yang Menantang/Instagram/pesona.cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Desa Rawaapu di Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, merupakan contoh nyata harmonisasi budaya di wilayah perbatasan. Berlokasi di lembah Sungai Citandui yang menjadi pembatas alam antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, desa ini dihuni oleh masyarakat dari dua etnis utama, yaitu Jawa Banyumasan dan Sunda Ciamis, yang hidup berdampingan secara rukun.

Mengutip dari berbagai sumber, keunikan Desa Rawaapu terwujud dalam kemampuan warganya mengintegrasikan dua budaya berbeda ke dalam kehidupan sehari-hari, meliputi aspek bahasa, kesenian, hingga tradisi pernikahan lintas etnis. Secara administratif, Desa Rawaapu terbagi menjadi empat dusun, yaitu Kalenanyar, Rawaapu, Cikuning, dan Cikadim.

Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat serta kawasan Segara Anakan. Posisi strategis ini menjadikan Rawaapu sebagai titik temu dua kebudayaan besar, yaitu Jawa Banyumasan dan Sunda Selatan.

Mayoritas penduduk Desa Rawaapu menggantungkan hidup pada sektor pertanian, terutama padi. Sebagian lainnya bekerja sebagai penderes kelapa untuk menghasilkan gula merah atau mencari ikan secara musiman di perairan Segara Anakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat setempat terbiasa menggunakan dua bahasa daerah, yakni Bahasa Banyumasan dan Bahasa Sunda. Ragam kesenian di Desa Rawaapu menunjukkan perpaduan budaya yang selaras.

 

Kuda Lumping

Pertunjukan tradisional Jawa seperti ebeg (kuda lumping) dan wayang kulit gaya Banyumasan kerap ditampilkan bersamaan dengan kesenian Sunda berupa ronggeng dan wayang golek. Kelompok seni ronggeng setempat bahkan rutin menggelar pertunjukan dalam berbagai acara kesenian di wilayah tersebut.

Interaksi sosial antar etnis di Rawaapu berlangsung tanpa hambatan berarti. Banyak terjadi pernikahan antar suku antara warga beretnis Jawa dan Sunda, yang semakin mempererat hubungan sosial masyarakat.

Selain sektor pertanian, sebagian warga bekerja sebagai buruh migran di berbagai negara seperti Malaysia, Hong Kong, dan Timur Tengah. Terdapat pula yang berprofesi sebagai pekerja serabutan di berbagai sektor informal.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya