Liputan6.com, Banyuwangi - Damarwulan merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang di Banyuwangi, Jawa Timur. Kesenian khas masyarakat Osing ini menggabungkan tari dan teater menjadi sebuah pertunjukan spektakuler.
Damarwulan sebenarnya merupakan bagian dari kesenian janger di Banyuwangi. Kesenian yang memadukan tarian, kostum, gamelan, dan cerita rakyat Jawa ini sangat populer di kalangan masyarakat Osing.
Advertisement
Tari tradisional dan seni olah peran dalam damarwulan biasanya menyuguhkan cerita Minak Jinggo dan Damarwulan di masa Kerajaan Majapahit dan Blambangan. Para pemain dalam kesenian ini harus memiliki kemampuan menari sekaligus memerankan seorang tokoh.
Tak hanya tari dan teater, damarwulan juga merupakan wujud akulturasi dua kebudayaan, yakni Bali dan Banyuwangi. Hal ini membuat damarwulan hadir sebagai seni pertunjukan yang kaya.
Pertunjukan ini mirip dengan kesenian ketoprak maupun ludruk. Pertunjukan damarwulan biasanya dibagi dalam empat bagian. Tak tanggung-tanggung, jumlah pemainnya biasa berjumlah antara 40 sampai 50 orang.
Nama Salah Satu Tokoh
Nama pertunjukan ini diambil dari nama salah satu tokoh utamanya. Menariknya lagi, dialog antar pemain tersaji dalam bentuk nyanyian.
Kesenian damarwulan juga melibatkan seorang dalang yang bertugas mengatur jalannya cerita. Ia juga menjadi orang yang memberikan gambaran mengenai segala hal yang akan terjadi dalam cerita.
Dalang dalam damarwulan memiliki fungsi yang mirip dengan dalang dalam pementasan wayang wong. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Tengahan, sedangkan saat adegan lawakan menggunakan bahasa Osing.
Hingga kini, kesenian damarwulan masih terus dipertahankan oleh masyarakat Osing di Banyuwangi. Kesenian ini kerap hadir dalam acara, termasuk pementasan sendratari dan festival budaya.
Penulis: Resla