Liputan6.com, Yogyakarta - Tari badui merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tarian ini termasuk dalam tarian folklasik atau tari rakyat.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, tari badui berakar dari tari religi. Tarian ini kemudian mengalami modifikasi dan diselaraskan dengan tradisi dan kebudayaan, sehingga dikenal sebagai tari rakyat Sleman.
Advertisement
Salah satu jenis seni selawatan ini lahir di kawasan pedesaan. Tarian ini berisi puji-pujian pada Nabi Muhammad SAW.
Awalnya, pementasan tari badui hanya dilakukan sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, saat ini tari badui telah berkembang menjadi tarian hiburan.
Dalam pementasannya, tari badui ditampilkan oleh delapan penari laki-laki. Tarian yang sangat dinamis ini diiringi dengan bedug atau jidor dan rebana.
Alunan musik tersebut mengalun indah dengan tambahan vokal tradisional yang khas. Lantunan vokal pada iringan tarian ini mampu menciptakan nuansa seni tradisional kerakyatan yang kental.
Lagu
Vokal tersebut tersaji dalam bentuk lagu yang dibawakan secara bergantian antara penari dan vokalis. Mereka saling bersahutan dengan penabuh instrumen.
Para penari mengenakan peci turki (panigoro) atau kuluk temanten berwarna merah. Mereka juga memiliki kucir pada rambutnya.
Kostum yang digunakan berupa baju atau kemeja lengan panjang, rompi, celana panji, kain (rampekan) stagen dan ikat pinggang, kaos kaki, serta sepatu putih. Para penari juga membawa aksesori berupa godo atau gombel, yakni tongkat kayu yang menyerupai senjata.
Pada zaman dahulu, tari badui memiliki fungsi dan makna sebagai sarana penyebaran agama Islam. Saat ini, tarian ini memiliki peran tambahan sebagai sarana hiburan masyarakat. Pada 2007, tari badui telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Penulis: Resla