Kenangan Terakhir Jemaah Haji Probolinggo Ditinggal Meninggal Ibunda dalam Pesawat Menuju Tanah Suci

Regita Triani Mardiyah sebenarnya berangkat haji untuk mendampingi ibunya yang ditinggal suaminya alias ayah Regita pada 2022.

oleh Dinny MutiahDiperbarui 28 Mei 2025, 19:37 WIB
Regita Triani Mardiyah dan sang ibu, Sri Umami Kasih, berpose bersama semasa hidup. (dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jeddah - Satu lagi jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di dalam penerbangan menuju Tanah Suci. Adalah Sri Umami Kasih (62) yang dinyatakan mengembuskan napas terakhirnya saat pesawat Saudia Airlines melintas Yalamlam pada Selasa, 27 Mei 2025, sekitar pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS).

Saang putri bungsu, Regita Triani Mardiyah (28) menjadi saksi atas kepergian ibunya. Jemaah haji asal Probolinggo, Jawa Timur itu terbang bersama 380 jemaah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) SUB 85.

Perjalanan awalnya berjalan lancar. Regita mengatakan bahwa ibunya sehat sejak awal penerbangan. Menurutnya, sang ibu tak memiliki riwayat penyakit apapun, termasuk dari keluarga. "Bahkan, beliau masih sering ngaji di pesawat," katanya kepada Liputan6.com yang bergabung dalam tim Media Center Haji 2025, kemarin.

Saat pesawat hampir mendekati Jeddah, Sri mengeluh kakinya kesemutan. Regita mencoba menenangkan ibunya dengan mengatakan peredaran darah ibunya kurang lancar karena selama penerbangan lebih dari tujuh jam itu, ia duduk terus.

"Akhirnya, saya copot sendalnya dan ajari ibu buat gerakin kakinya. Tapi katanya, sakit masih tetap, sampe beliau pijat-pijat kakinya," terang anak bungsu dari tiga bersaudara itu.

Ia lalu meminta ibunya berdiri dengan pertimbangan bisa membuatnya lebih nyaman. Setelah berdiri cukup lama, Sri kembali duduk. Tak lama setelah itu, badannya tersungkur. 

Sempat Jalan Sebelum Pingsan

Ilustrasi pesawat sedang mengudara (pixabay)

Tak ada hal buruk yang terlintas di benaknya saat itu. "Saya pikir ada benda yang jatuh mau diambil," ucapnya.

Lama kelamaan, ia curiga karena posisi sang ibu tak berubah. Ia sempat mendengar sang ibu mendengkur. Panik, tubuh sang ibu ia angkat dan segera memanggil dokter kloter.

"Sebenarnya masih bisa sadar saat ditangani dokter pertama kali. Sempat dibaringkan, terus sama dokter mau dipindah ke seat yang di depan biar lebih enak ngontrolnya," dia menjelaskan.

Regita juga mengungkapkan bahwa ibunya sempat jalan sendiri menuju kursi depan. "Tapi belum sampai, beliau pingsan dan di situ, kondisi saturasi dan denyut nadinya naik turun," sambungnya. 

Dokter yang bertugas berusaha mengembalikan kondisi sang ibu, tetapi upaya medis tak berhasil. Ibunya pun wafat dan meninggalkannya sendirian melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.

"Saya hanya bisa menangis sesenggukan dan berdoa, bahwa ibu saya wafat dan dimakamkan di tempat terbaik," ujar Regita lagi.

 

Lanjutkan Perjuangan Naik Haji

Ilustrasi meninggal, kematian, makam, kuburan. (Photo by Quick PS on Unsplash)

Jenazah Sri Umami kemudian disemayamkan di Rumah Sakit King Fahd, Jeddah. Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara Abdul Basir mengonfirmasi kematiannya. Berdasarkan keterangan syarikah yang mengurus pemakamannya, jenazah Sri dikuburkan di pemakaman Dzahban, Jeddah.

"Dimakamkan kemarin, 29 Dzulqaidah, di pemakaman Dzahban Jeddah," katanya dalam pesan singkat, Rabu (28/5/2025).

Dengan kehilangan ibunya, Regita kini menjadi yatim piatu. Sang ayah, Syafiudin lebih dulu meninggal pada 2022. Kepergiannya ke Makkah sebenarnya dalam rangka mendampingi ibunya yang ditinggal pergi ayahnya setelah mendaftar pada 2012.

 

"Rupanya, takdir berkata lain. Ibu saya menyusul ayah meskipun wafat di tanah suci. Ini saya sangat sedih tapi bahagia ibu bisa dimakamkan di sini (Saudi Arabia)," ujarnya.

Meski sedih terasa, ia pantang pulang. "Saya tetap lanjutkan ibadah haji ini mbak, sambil saya ba'dalkan umroh almarhum ayah dan almarhumah ibu," katanya lagi. 

Kepada sanak saudara dan kerabatnya di manapun berada, Regita pun menitipkan pesan, "Tolong sampaikan pesan maaf dari ibu saya buat semua kerabat yang kenal. Dan mohon doanya juga agar ibu ditempatkan di sisi Allah yang terbaik."

Hak-hak Jemaah Haji yang Wafat

Ilustrasi kabin pesawat. (dok. unsplash.com/angelacompagnone)

Kematian Sri menjadi kasus keempat jemaah haji Indonesia meninggal di pesawat atau kawasan bandara sepanjang musim haji 2025. Sementara, data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) per 28 Mei 2025, pukul 15.30 WAS, jumlah jemaah haji yang wafat adalah 77 orang dengan nama Sri belum tercantum di daftar tersebut.

Sebelumnya, Basir mengatakan bahwa setiap jemaah haji dan umrah asing, termasuk dari Indonesia, harus dimakamkan di Arab Saudi. Keluarga tidak bisa meminta jenazah dipulangkan ke tanah airnya masing-masing.

"Pemakaman kalau di Jeddah nanti tergantung otoritas Kota Jeddah. Nanti mereka yang menentukan jenazah jemaah hajinya akan dimakamkan di mana. Tidak harus di satu tempat," kata Basir.

Biasanya, sambung dia, jemaah haji meninggal dunia akan dimakamkan di rumah sakit terdekat yang menanganinya saat sakit atau telah meninggal dunia. Setiap jemaah haji yang wafat dipastikan akan memperoleh hak-haknya.

"Untuk klaim asuransi jiwa akan diproses Kementerian Agama, tapi setelah proses hajinya selesai. Nanti semua jemaah yang meninggal dunia akan mendapatkan hak-haknya, baik itu bakal haji oleh petugas haji kita maupun asuransi," sambungnya.

Infografis 3 Kriteria Jemaah Indonesia Dapat Badal Haji Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya