Liputan6.com, Jakarta - Planet ekstrasurya K2-18b kembali menjadi sorotan dalam komunitas ilmiah setelah analisis terbaru dari data teleskop James Webb (JWST) mengungkapkan kemungkinan adanya tanda-tanda kehidupan. Planet yang terletak sekitar 124 tahun cahaya dari bumi di rasi Leo ini diklasifikasikan sebagai "dunia Hycean".
Planet ini diperkirakan memiliki lautan luas dan atmosfer kaya hidrogen. Hal ini menjadikannya kandidat kuat untuk mendukung kehidupan mikroba.
Advertisement
Dalam studi yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters, tim astronom dari Universitas Cambridge mendeteksi senyawa dimetil sulfida (DMS) dan dimetil disulfida (DMDS) di atmosfer K2-18b. Di Bumi, senyawa-senyawa ini umumnya dihasilkan oleh mikroorganisme laut seperti fitoplankton.
Selain itu, JWST juga mendeteksi keberadaan metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂), yang memperkuat kemungkinan adanya proses biologis di planet tersebut. Namun, klaim ini memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.
Melansir laman pace pada Rabu (28/05/2025), beberapa peneliti menekankan bahwa deteksi DMS dan DMDS masih berada pada tingkat signifikansi statistik 99,7 persen (tiga sigma), yang belum mencapai ambang batas lima sigma yang diperlukan untuk konfirmasi ilmiah yang kuat. Analisis independen oleh astrofisikawan dari Universitas Oxford menunjukkan bahwa data spektrum JWST mungkin terlalu bising untuk menarik kesimpulan definitif.
Selain itu, beberapa ilmuwan mengingatkan bahwa senyawa-senyawa tersebut dapat terbentuk melalui proses geokimia non-biologis yang belum sepenuhnya dipahami. K2-18b memiliki massa sekitar 8,6 kali Bumi dan radius 2,6 kali lebih besar, dengan orbit 33 hari mengelilingi bintang katai merah K2-18.
Meskipun ukurannya lebih besar dari bumi, planet ini menerima jumlah cahaya bintang yang serupa. Hal ini menempatkannya dalam zona layak huni di mana air cair dapat eksis.
Deteksi awal uap air di atmosfernya oleh Teleskop Hubble pada 2019 telah menempatkan K2-18b sebagai target utama dalam pencarian kehidupan ekstraterestrial. Penemuan ini menandai langkah maju dalam astrobiologi, namun para ilmuwan menekankan perlunya observasi lanjutan dan analisis lebih mendalam untuk mengonfirmasi keberadaan biosignatur tersebut.
Dengan teknologi seperti JWST, masa depan penelitian exoplanet menjanjikan pemahaman lebih dalam tentang kemungkinan kehidupan di luar Tata Surya.
Mengenal Planet K2-18b
Melansir laman NASA pada Rabu (28/05/2025), planet K2-18b pertama kali ditemukan pada 2015 oleh misi Kepler NASA. Planet ini mengorbit bintang kerdil merah di rasi bintang Leo dan masuk dalam kategori "super-Earth" karena massanya yang lebih besar dari bumi.
Planet K2-18b menarik perhatian ilmuwan karena berada di zona layak huni bintang induknya. Dalam zona ini, air dapat bertahan dalam bentuk cair di permukaan.
Planet K2-18b memiliki massa 8,6 kali massa bumi dan dua kali lipat ukurannya. Dengan gravitasi yang lebih kuat dari bumi, permukaan planet ini akan terasa jauh lebih berat bagi manusia atau makhluk hidup lainnya.
Dengan ukuran besar dan atmosfer yang tebal, K2-18b lebih mirip dengan Neptunus daripada bumi. Walaupun begitu, beberapa ilmuwan tetap berspekulasi bahwa lapisan tertentu di atmosfernya bisa mendukung kehidupan mikroba.
Meski memiliki air, planet K2-18b tidak seperti bumi. Atmosfer yang kaya akan H2 tanpa awan yang tebal dapat menyebabkan suhu meningkat pada tekanan yang tinggi.
Akibatnya, lautan berubah menjadi atmosfer yang didominasi uap. Atmosfer yang terlalu dangkal berisiko mengalami penghilangan seiring waktu.
Akibatnya, ada rentang parameter terbatas kapan lautan yang dapat dihuni berada di K2-18b tanpa awan yang signifikan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi apakah awan atau haze mengelilingi planet, atau hadir saat siang saja.
Hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah karakteristik K2-18b yang jauh berbeda dengan bumi.
(Tifani)