Liputan6.com, Jakarta - Ketan unti merupakan kuliner di Kampung Tugu yang menjadi bukti jejak Portugis di Batavia. Kuliner ini sangat lekat dengan jejak sejarah masa lampau dan kerap hadir dalam acara pemakaman.
Kampung Tugu di Jakarta Utara merupakan permukiman yang dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis. Terdapat banyak budaya dan tradisi dari kampung ini yang lahir dari akulturasi, tak terkecuali terkait kuliner khasnya.
Advertisement
Ketan unti yang kerap disajikan dalam berbagai acara ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat Kampung Tugu. Ketan unti dimaknai sebagai media untuk mendoakan orang yang telah tiada sebelum dikuburkan. Tradisi ini berkaca dari ajaran leluhur Portugis sejak dahulu.
Ketan unti memiliki rasa manis dan gurih denga. tekstur kenyal dan sedikit lengket. Rasa gurih tersebut berasal dari santan yang dicampurkan pada beras ketan.
Serundeng
Ketan unti juga disajikan bersama serundeng kelapa atau parutan kelama manis. Ketan unti biasanya dibungkus plastik atau daun pisang.
Cara penyajiannya adalah dengan mencetak ketan putih dengan taburan serundeng di atasnya. Bentuknya pun beragam, ada yang lingkaran, bunga, hingga kerucut.
Selain ketan unti, jejak orang Portugis di Kampung Tugu juga terlihat dari ragam kuliner lain, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani tugu, dan lainnya. Adapun kudapan lain khas Kampung Tugu adalah pisang udang, apem kinca, dan eeg tart.
Ketan unti yang kerap hadir dalam acara pemakaman kemudian dijuluki sebagai kue kematian oleh warga sekitar. Hingga kini, ketan unti masih menjadi hidangan khas Kampung Tugu yang harus disajikan saat mendoakan jenazah yang belum dikubur.
Penulis: Resla