Rapor Juventus Akhir Musim 2024/2025: Manisnya Harapan, Pahitnya Kenyataan

Cerita Juventus musim ini adalah soal ketegangan antara harapan dan kenyataan. Dari mimpi menyegarkan taktik hingga realita terdepak dari Coppa dan Liga Champions, Bianconeri harus melalui berbagai rintangan.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 27 Mei 2025, 13:31 WIB
Juventus menelan kekalahan 2-4 dari Empoli lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit pada perempat final Coppa Italia di Allianz Stadium, Kamis (27/02/2025) dini hari WIB. (Marco Alpozzi/LaPresse via AP)

Liputan6.com, Jakarta Musim 2024/2025 jadi babak baru dalam perjalanan Juventus—dalam arti sesungguhnya. Dimulai dengan semangat baru bersama Thiago Motta, kemudian terguncang di tengah jalan, dan ditutup dengan nafas lega di bawah kendali Igor Tudor. Juventus, dengan segala kekacauan dan dramanya, tetap menjaga gengsi sebagai penghuni papan atas Serie A.

Namun, perjalanan mereka tak sepenuhnya mulus. Kepergian Massimiliano Allegri, hanya dua hari setelah mengantarkan Juventus juara Coppa Italia 2023/2024, menjadi titik awal gejolak. Paolo Montero sempat menenangkan badai, tapi proyek jangka panjang tetap butuh fondasi baru—itulah yang coba dibangun Motta, meski gagal.

Cerita Juventus musim ini adalah soal ketegangan antara harapan dan kenyataan. Dari mimpi menyegarkan taktik hingga realita terdepak dari Coppa dan Liga Champions, Bianconeri harus melalui berbagai rintangan sebelum akhirnya mencapai satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan wajah mereka: tiket Liga Champions.


Performa Juventus di Kompetisi Domestik: Motta dan Mimpi yang Terputus

Menurut laporan resmi tersebut, pria berusia 42 tahun itu meneken kontrak berdurasi tiga tahun sampai Juni 2027. (Marco BERTORELLO / AFP)

Thiago Motta datang dengan semangat revolusi. Setelah sukses membawa Bologna ke Liga Champions, dia diyakini bisa mengubah Juventus menjadi tim beridentitas baru—progresif, atraktif, dan terorganisir. Namun, realita tak seindah harapan, dan Turin bukan Bologna.

Langkah Juventus terhenti lebih awal di Supercoppa setelah kalah dari Milan-nya Sergio Conceicao. Di Coppa Italia, mereka harus menelan kekalahan menyakitkan dari Empoli—bukan karena kalah kualitas, tapi kalah mental di adu penalti. Di Serie A, performa tak stabil dan sulitnya meraih kemenangan menjadi masalah utama.

Saat Motta dipecat pada 23 Maret, Juventus seolah berada di persimpangan. Klub besar seperti mereka tidak boleh sampai gagal finis di zona Liga Champions. Datanglah Tudor, bukan untuk mengubah arah sepenuhnya, tapi memastikan kapal tak karam sebelum pelabuhan terakhir.


Performa di Liga Champions: Panggung yang Terlalu Besar?

Pemain depan PSV Eindhoven asal Belanda Noa Lang (tengah) ditekel oleh gelandang Juventus asal Italia Manuel Locatelli (bawah) selama pertandingan play-off fase gugur Liga Champions UEFA leg kedua antara PSV Eindhoven dan Juventus di Stadion Philips di Eindhoven pada 19 Februari 2025.NICOLAS TUCAT / AFP

Juventus kembali ke Liga Champions dengan status sebagai tim ambisius yang sedang mencari arah. Namun, di panggung elite Eropa, mereka terlihat kecil. Dalam delapan laga di fase liga, Juventus cuma menang tiga kali. Dua kekalahan kandang—dari Stuttgart dan Benfica—menjadi luka dalam.

Finis peringkat ke-20 membuat mereka harus melewati babak play-off untuk bertahan. Lawan mereka: PSV Eindhoven. Juventus mencetak tiga gol dalam dua leg, tapi kebobolan empat. Mimpi Eropa pun sirna terlalu cepat, terlalu dingin.

Lanjut Baca:

Kegagalan ini menjadi refleksi bahwa proyek Motta mungkin menjanjikan untuk Serie A, tapi belum matang di kancah kontinental. Juventus, dengan statusnya sebagai klub besar, tentu tak bisa hanya puas sebagai penonton di tengah pekan Eropa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya