Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Berdasarkan survei tersebut angka stunting Indonesia pada tahun 2024 turun dari tahun sebelumnya 21,5 persen menjadi 19,8 persen.
Dari angka tersebut, Jawa Barat menyumbangkan jumlah balita terbesar dalam angka stunting. Berikut enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar di Indonesia pada 2024:
Advertisement
- Jawa Barat (638.000 balita)
- Jawa Tengah (485.893 balita)
- Jawa Timur (430.780 balita)
- Sumatera Utara (316.456 balita)
- Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan
- Banten (209.600 balita).
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan untuk bisa menurunkan angka stunting 2025 di 18,8 persen maka perlu elaborasi dan kerja keras lintas sektor di enam provinsi di atas.
“Kalau enam provinsi ini bisa kita turunkan 10%, maka secara nasional kita bisa turun 4–5%. Karena 50% anak stunting ada di enam daerah ini,” kata Menkes Budi saat sambutan di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes Jakarta pada Senin (26/5/2025).
Upaya Penurunan Angka Stunting: Intervensi pada Remaja Putri dan Ibu Hamil
Budi mengatakan bahwa strategi penting lain untuk mencegah stunting dilakukan sejak sejak masa pra-kelahiran. Khususnya untuk remaja putri dan ibu hamil.
Pada remaja putri perlu mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri merupakan upaya penting untuk mencegah stunting, terutama karena remaja putri rentan mengalami anemia akibat menstruasi.
Lalu, pada ibu hamil bisa dengan pengukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil, distribusi tablet tambah darah, serta suplementasi mikronutrien.
"Stunting itu terjadi bukan setelah lahir, tapi bahkan sejak dalam kandungan. Maka intervensi kepada ibu hamil sangat penting. Jangan sampai ibu-ibu hamil kekurangan gizi atau anemia,” kata Menkes Budi.
Selain itu, program peningkatan mutu pengukuran di Posyandu juga terus diperkuat melalui distribusi 300.000 alat antropometri, didukung program ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan imunisasi.
Menutup sambutannya, Budi mengajak seluruh pihak menjaga momentum penurunan stunting.
“Yuk, jangan lupa, tahun ini target kita 18,8%,” kata Budi.
Prevalensi Stunting Lebih Banyak di Kelompok Pendapatan Sangat Rendah
Di kesempatan yagn sama, Kepala BKPK Kemenkes RI, Prof. Asnawi Abdullah mengungkapkan dari data SSGI 2024 terdapat catatan prevalensi stunting lebih banyak pada kelompok pendapatan sangat rendah.
“Prevalensi stunting sangat bervariasi. Misalnya, pada kelompok pendapatan sangat rendah, angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok pendapatan tinggi. Ini menjadi catatan penting untuk penajaman intervensi,” kata Prof Asnawi.
Untuk diketahui, SSGI 2024 dilaksanakan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dan didukung penuh oleh kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, serta mitra pembangunan internasional, seperti WHO, SEAMEO RECFON , dan Prospera.