IHSG Perkasa Usai Suku Bunga BI Turun, Investor Asing Lego 10 Saham Ini

Investor asing melakukan aksi beli saham yang mencapai Rp 621,92 miliar pada Kamis, 22 Mei 2025. Namun, investor asing melepas 10 saham.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiperbarui 23 Mei 2025, 10:10 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 22 Mei 2025 ditutup menguat sebesar 24,52 poin atau 0,34% ke level 7.166. IHSG berada di level tertinggi 7.190,66 dan level terendah 7.136,78.

Sebanyak 306 saham melemah sehingga tahan penguatan IHSG. 294 saham menguat dan 207 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.394.399 kali dengan volume perdagangan 22,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.330.

Investor asing melakukan aksi beli saham yang mencapai Rp 621,92 miliar. Namun, sepanjang 2025, investor asing masih melakukan jual saham senilai Rp 47,25 triliun. Sektor saham cenderung beragam pada Kamis pekan ini.

Sektor saham basic naik 2,12% dan catat penguatan terbesar. Disusul sektor saham transportasi yang menguat 2,05% dan sektor saham consumer siklikal bertambah 1,26%. Selain itu, sektor saham teknologi mendaki 0,82% dan sektor saham energi menanjak 0,37%.

Sementara itu, sektor saham kesehatan turun 0,71% dan catat koreksi terbesar. Sektor saham industri susut 0,34%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 0,02%, sektor saham keuangan turun 0,08%. Lalu sektor saham properti melemah 0,33% dan sektor saham infrastruktur susut 0,29 persen.

Berdasarkan data Stockbit, berikut 10 saham yang paling banyak dibeli dan dijual asing pada Kamis 22 Mei 2025:

 

 

Aksi Beli dan Jual Saham

Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Net Foreign Buy:

1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Rp 462,47 miliar

2. Aneka Tambang (ANTM), Rp 85,44 miliar

3. Bank Mandiri (BMRI), Rp 85,39 miliar

4. Bumi Resources Minerals (BRMS), Rp 76,84 miliar

5. GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Rp 72,97 miliar

6. Bank Central Asia (BBCA), Rp 63,94 miliar

7. Bank Syariah Indonesia (BRIS), Rp 47,89 miliar

8. Erajaya Swasembada (ERAA), Rp 36,58 miliar

9. Raharja Energi Cemerlang (RATU), Rp 27,54 miliar

10. Barito Pacific (BRPT), Rp 24,60 miliar

11. Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Rp 14,00 miliar

Net Foreign Sell:

1. Astra International (ASII), Rp 77,92 miliar

2. Adaro Energy Indonesia (ADRO), Rp 47,56 miliar

3. Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), Rp 44,73 miliar

4. Bank Negara Indonesia (BBNI), Rp 44,56 miliar

5. Amman Mineral Internasional (AMMN), Rp 44,50 miliar

6. Vale Indonesia (INCO), Rp 44,46 miliar

7. Pertamina Geothermal Energy (PGEO), Rp 34,31 miliar

8. Unilever Indonesia (UNVR), Rp 25,47 miliar

9. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Rp 22,96 miliar

10. AKR Corporindo (AKRA), Rp 21,96 miliar

Sentimen IHSG

Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Senior Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menuturkan, secara teknikal, IHSG mampu bertahan di atas moving average (MA200) tetapi histogram MACD cenderung bergerak sideways.

“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level 7.100 sampai 7.200 pada perdagangan Jumat, 23 Mei," ujar di Jakarta, Kamis, seperti dikutip dari Antara.

Dari Amerika Serikat (AS), pasar mengantisipasi rilis data New Home Sales  April 2025 pada 23 Mei 2025 yang diperkirakan turun menjadi minus 4,7 persen month to month (mtm) dari sebelumnya naik 7,4 persen (mtm) pada Maret 2025.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa permintaan di sektor perumahan baru di AS mengalami pelemahan.

Dari kawasan Eropa, pasar mengantisipasi rilis data retail sales bulan April 2025 di Inggris yang diperkirakan tumbuh 4,5 persen (yoy) dari sebelumnya 2,6 persen (yoy) pada Maret 2025, yang mengindikasikan bahwa konsumsi domestik cenderung meningkat.

Dari regional Asia, pasar mengantisipasi rilis data inflation rate  April 2025 di Jepang pada 23 Mei 2025 yang diperkirakan sedikit mengalami peningkatan ke level 3 7 persen (yoy) dari sebelumnya 3,6 persen (yoy) di Maret 2025, yang mengindikasikan bahwa inflasi yang terjadi di Jepang relatif terjaga.

Dari dalam negeri, pasar menantikan rilis data M2 Money Supply pada April 2025 sebagai acuan untuk mengukur likuiditas uang yang beredar.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya