Perjalanan Luka Modric: Dari Anak Pengungsi Perang hingga Legenda Besar di Bernabeu

Mungkin hanya sedikit yang tahu bahwa Luka Modric pernah menapak tanah yang penuh bara dan konflik.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 23 Mei 2025, 09:56 WIB
Gelandang Kroasia, Luka Modric melakukan selebrasi setelah memenangkan pertandingan sepak bola leg pertama perempat final UEFA Nations League melawan Prancis di Stadion Poljud di Split, pada 20 Maret 2025. (FRANCK FIFE/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Saat kakinya menapak rumput hijau Santiago Bernabeu untuk pertama kalinya, mungkin hanya sedikit yang tahu bahwa Luka Modric pernah menapak tanah yang penuh bara dan konflik.

Ia bukan sekadar pesepakbola hebat; ia adalah kisah tentang harapan yang tidak pernah padam. Dari reruntuhan perang, Modric membangun tak hanya karier, tapi warisan, sebuah legenda yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari ketabahan luar biasa.

Luka Modric datang ke Real Madrid pada 2012 lalu. Dia dibeli dari Tottenham dengan harga €30 juta. Modric memulai sebuah era, bersama Casemiro dan Toni Kroos datang ke Bernabeu pada musim-musim berikutnya.

Modric akan menutup perjalanan kariernya di Real Madrid begitu musim 2024/2025 usai. Datang dari Tottenham, tanpa trofi mayor, Modric akan pergi dengan status legenda. Dia punya enam gelar juara Liga Champions.


Masa Kecil Luka Modric yang Diguncang Ledakan

Di luar gelar klub, Luka Modric juga menyabet Ballon d'Or pada 2018. Ia juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA dan UEFA pada tahun yang sama. Tampak dalam foto, gelandang Real Madrid asal Kroasia, Luka Modric berpose di atas karpet merah menjelang gala Laureus World Sports Awards ke-26 di Madrid pada 21 April 2025. (JAVIER SORIANO/AFP)

Luka Modric lahir pada 9 September 1985 di kota Zadar, Kroasia, yang kala itu masih merupakan bagian dari Yugoslavia. Kota itu indah, berada di tepi Laut Adriatik, tetapi damai hanya tinggal dalam kenangan ketika perang pecah pada awal 1990-an.

Usianya baru enam tahun ketika konflik bersenjata merenggut segalanya dari keluarganya. Rumah mereka dibakar, dan Modric bersama keluarganya terpaksa hidup mengungsi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi keselamatan.

Ayahnya, Stipe Modric, adalah teknisi di militer Kroasia. Kakeknya, yang sangat dekat dengannya, dibunuh oleh pasukan Serbia di pegunungan dekat rumah mereka. Peristiwa itu menjadi luka yang tertanam dalam, namun juga bara semangat bagi Modric kecil—yang saat itu hanya memiliki bola sebagai pelarian dari dunia yang kacau.


Jalan Terjal Menuju Puncak

Luka Modric. Gelandang Kroasia berusia 36 tahun yang kini memasuki musim ke-11 membela Real Madrid ini mampu meraih Ballon d'Or pada edisi 2018 usai Real Madrid menjuarai Liga Champions musim 2017/2018 dan membawa Kroasia menjadi runner-up Piala Dunia 2018. Namun pada penghargaan Ballon d'Or edisi 2019 dirinya sama sekali tidak masuk dalam nominasi usai Real Madrid tak meraih satu pun gelar di musim 2018/2019. (AFP/Gabriel Bouys)

Perjalanan Modric tidak pernah mudah. Ia harus membuktikan diri lewat masa pinjaman ke klub Bosnia, Zrinjski Mostar, pada usia 18 tahun. Liga Bosnia dikenal keras, namun Modric tidak menyerah. Justru di sanalah ia menempa mental baja, belajar bertahan, belajar memimpin, dan belajar bertarung bukan hanya demi menang, tapi demi hidup.

Setelah sukses di Dinamo Zagreb dan bersinar di Liga Kroasia, Tottenham Hotspur datang meminangnya pada 2008. Premier League sempat meragukannya karena fisiknya yang dianggap terlalu kecil untuk sepak bola Inggris yang keras.

Tapi Modric menjawab dengan performa, bukan kata-kata. Ia menjadi jantung permainan Tottenham dan membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada otot, tapi pada otak dan nyali.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya