Bali Punya PLTS Terapung, Segini Kapasitasnya

PLN Indonesia Power (PLN IP) menambah kapasitas listrik dari energi baru terbarukan (EBT) dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Muara Nusa Dua, Bali dengan kapasitas 100 kilowatt peak (kWp).

oleh Septian DenyDiterbitkan 22 Mei 2025, 18:10 WIB
Pekerja merawat solar cell di Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) 1 MWp, Bangli, Bali, Selasa (31/8/2021). Selain menjual listrik ke PLN, PLTS 1 MWp ini juga mengembangkan sistem pertanian hidroponik dengan sumber listrik dari tenaga surya. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta PLN Indonesia Power (PLN IP) menambah kapasitas listrik dari energi baru terbarukan (EBT) dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Muara Nusa Dua, Bali dengan kapasitas 100 kilowatt peak (kWp).

Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra, menyampaikan bahwa pengembangan PLTS di Bali merupakan langkah konkret korporasi dalam mendukung arah kebijakan daerah dan nasional terkait transisi energi.

“Pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT ini merupakan bentuk nyata dukungan PLN Indonesia Power terhadap target NZE 2060 serta mendukung sepenuhnya kebijakan Pemerintah Daerah seperti Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Bali Mandiri Energi dan Bali Energi Bersih, karena secara umum Indonesia kaya akan potensi tenaga surya yaitu mencapai 3.295 Gigawatt (GW)," kata Edwin, Kamis (22/5/2025).

Menurut Edwin, pengembangan PLTS salah satunya yang ada di Bali seperti di Muara Nusa Dua, Nusa Penida serta PLTS Atap adalah bagian dari fondasi penting dalam membangun masa depan energi yang lebih hijau dan berdaulat

"Hal ini merupakan peluang besar yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Kami percaya,” tambahnya.

 

 

Dekarbonisasi

PLTS Bali Mandara. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Senior Manager PLN IP Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali I Made Harta Yasa menegaskan bahwa PLTS Terapung Muara Nusa Dua, PLTS Nusa Penida dan PLTS Atap di berbagai unit kerja PLN merupakan bagian dari kontribusi korporasi terhadap dekarbonisasi sistem kelistrikan nasional dan pemenuhan kebutuhan energi bersih di Bali.

“PLN Indonesia Power berkomitmen penuh untuk mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Bali Mandiri Energi melalui pengembangan infrastruktur EBT yang andal dan berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk terus memperluas pemanfaatan EBT sebagai bagian dari masa depan energi yang berkelanjutan,” ujar I Made Harta Yasa.

Diketahui PLTS Muara Nusa Dua ini kerjakan hanya dalam waktu 1 bulan 2 minggu oleh para engineer terbaik PLN IP, proyek PLTS ini juga berhasil memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 49,6 persen. Menariknya, potensi pengembangan ke depan masih terbuka luas, karena area waduk memungkinkan pemanfaatan hingga 80% dari total permukaan air untuk pembangkit surya.

 

Energi Bersih

Pekerja merawat solar cell di Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) 1 MWp, Bangli, Bali, Selasa (31/8/2021). Selain menjual listrik ke PLN, PLTS 1 MWp ini juga mengembangkan sistem pertanian hidroponik dengan sumber listrik dari tenaga surya. (merdeka.com/Arie Basuki)

PLTS terapung ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kebijakan energi bersih Pemerintah Provinsi Bali yang menargetkan pemenuhan kebutuhan listrik dari sumber ramah lingkungan. Komitmen tersebut tercermin dalam Peraturan Gubernur Bali No. 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, yang menekankan pentingnya Bali menjadi provinsi mandiri energi melalui optimalisasi EBT.

Tak hanya PLTS Terapung Muara Nusa Dua, PLN Indonesia Power juga mengelola sejumlah pembangkit listrik berbasis EBT lainnya di Bali. Di antaranya PLTS Nusa Penida 5,3 Megawatt peak (MWp) yang telah menjadi pionir pembangkitan energi surya di wilayah kepulauan, serta pemanfaatan PLTS Atap yang tersebar di fasilitas Unit Bisnis Pembangkitan Bali (UBP Bali) 510 kWp, PLN Unit Induk Distribusi (UID) 250,80 kWp Bali serta PLTS Atap di Unit PLTG Pemaron sebesar 96 kWp sebagai bentuk nyata efisiensi energi sekaligus edukasi publik terhadap pentingnya transisi energi.

Upaya ini merupakan bagian dari strategi korporasi dalam memperluas portofolio pembangkitan EBT di daerah-daerah prioritas, termasuk Bali, yang dikenal sebagai kawasan pariwisata hijau dan berwawasan lingkungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya