Momen-momen saat Inter Merasa Dikhianati Peluit Wasit

Di balik keputusan bungkam Inter Milan, tersimpan keyakinan bahwa mereka telah menjadi korban rangkaian keputusan wasit yang merugikan sepanjang musim.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 21 Mei 2025, 16:32 WIB
Denzel Dumfries dari Inter Milan mencetak gol (2-1) dalam pertandingan Serie A antara Inter dan Lazio di San Siro, Minggu, 18 Mei 2025. (Spada/LaPresse via AP)

Liputan6.com, Jakarta Inter Milan memilih diam. Tak satu pun pemain atau staf pelatih hadir dalam sesi wawancara usai laga dramatis kontra Lazio. Bagi publik, itu sinyal kekecewaan besar—bukan hanya karena hasil imbang 2-2.

Namun, bagi mereka di dalam, sikap itu bukan sekadar soal dua gol yang terbuang atau peluang Scudetto yang hampir pasti lepas ke tangan Napoli. Di balik keputusan bungkam itu, tersimpan keyakinan bahwa mereka telah menjadi korban rangkaian keputusan wasit yang merugikan sepanjang musim.

Pertandingan kontra Lazio hanyalah puncaknya. Itu adalah momen ketika rasa frustrasi yang telah menumpuk meledak begitu saja di hadapan publik Serie A.


Titik Didih Bernama Lazio

Pelatih Inter Milan, Simone Inzaghi, berhasil mengukir kemenangan ke-200 di Serie A setelah timnya menang atas Lecce pada laga pekan ke-22 di Stadio Ettore Giardiniero - Via del Mare, Minggu (27/01/2025) dini hari WIB. (Giovanni Evangelista/LaPresse via AP)

Dari awal laga kontra Lazio, Inter sudah menunjukkan tanda-tanda gelisah. Daniele Chiffi memberikan penalti kepada tamu mereka usai bola menyentuh tangan Yann Bisseck. Keputusan itu langsung menyulut emosi di bangku cadangan.

Wasit tak ragu, VAR pun tak menggubris protes. Inter merasa ini bukan keputusan tunggal, melainkan bagian dari pola yang merugikan mereka di pekan-pekan krusial, saat satu poin saja bisa mengubah peta perebutan gelar.

Simone Inzaghi, tak kuasa menahan diri, akhirnya diusir dari lapangan. Sebuah ironi: pelatih yang mengatur emosi tim sepanjang musim kini harus absen di laga pemungkas karena tak mampu mengendalikan emosinya sendiri.


Nerazzurri: Satu Musim, Banyak Rasa Sakit

Bek Inter Milan, Yann Bisseck berebut bola dengan pemain Lazio, Taty Castellanos pada lanjutan Serie A 2024/2025 di Giuseppe Meazza, 19 Mei 2025. (Spada//LaPresse via AP)

Inter merasa dirugikan bukan hanya sekali atau dua kali. Dalam duel lawan Napoli, Mathias Olivera sempat menyentuh bola dengan tangan saat menghadang Lautaro Martinez—tapi tak ada penalti. Momen krusial itu menurut mereka mengubah alur laga.

Saat menghadapi Bologna di Giuseppe Meazza, Marcus Thuram dijatuhkan oleh kiper Lukasz Skorupski, tapi justru dianggap melakukan pelanggaran. Nerazzurri meminta penalti, wasit memberi tendangan bebas untuk lawan.

Lawan AC Milan, mereka kembali gigit jari. Strahinja Pavlovic menjegal Thuram di kotak penalti, tapi VAR diam seribu bahasa. Sementara itu, Theo Hernandez dengan leluasa membuang bola sesaat setelah pelanggaran terjadi.


Kesabaran Inter Benar-benar Diuji

Penyerang, Inter Mila, Marko Arnautovic (kiri) tertunduk lesu setelah kalah dari AS Roma pada lanjutan Liga Italia 2024/2025 di Stadion San Siro, Milan, Minggu (27/4/2025). (Piero Cruciatti/AFP)

Simone Inzaghi juga menyoroti gol Riccardo Orsolini di injury time saat melawan Bologna. Bola dilemparkan ke dalam permainan jauh dari titik keluarnya. Sekilas tampak remeh, tapi cukup untuk mengacaukan organisasi bertahan mereka.

Lanjut Baca:

Lawan Roma pun tak luput dari perhatian. Yann Bisseck ditarik oleh Evan Ndicka saat hendak menyambut bola di mulut gawang. Semua terlihat jelas, kecuali oleh wasit dan VAR yang memilih tak bertindak. Bagi Inter, ini semua bukan kebetulan. Mereka yakin, keputusan-keputusan semacam ini telah memberi dampak langsung pada jalannya kompetisi. Dalam balapan menuju Scudetto yang ditentukan detail kecil, semua itu jadi sangat berarti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya