Liputan6.com, Jakarta PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), produsen cetakan sarung tangan terbesar di dunia, memutuskan membagikan dividen tunai sebesar 93% dari laba bersih tahun buku 2024. Keputusan ini disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 16 Mei 2025.
Advertisement
Dengan laba bersih sebesar Rp 286,6 miliar, total dividen yang akan dibagikan diperkirakan mencapai Rp 266 miliar atau sekitar Rp 70 per saham.
Mengacu pada harga penutupan saham MARK per 16 Mei 2025 sebesar Rp 815, estimasi dividend yield mencapai 8,6%. Hal ini menunjukkan komitmen manajemen dalam menjaga kepercayaan investor dan membagikan hasil kinerja yang solid.
Kinerja Keuangan Solid, Siap Lakukan Ekspansi
Direktur Utama MARK, Ridwan Goh, menyampaikan bahwa pembagian dividen konsisten setiap tahun mencerminkan prioritas Perseroan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
“Kami tetap fokus pada pertumbuhan yang sehat dan pengelolaan keuangan yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/5/2025).
Resilien di Tengah Ketidakpastian Global
Hingga 31 Maret 2025, MARK mencatatkan kas dan setara kas sebesar Rp 144,9 miliar, meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp 75,7 miliar.
Dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang rendah di level 0,22x, Perseroan memiliki fleksibilitas finansial yang kuat untuk mendorong ekspansi usaha maupun pengembangan lini bisnis baru.
Sejak berdiri tahun 2002, MARK menunjukkan pertumbuhan kapasitas produksi yang konsisten, dari hanya 50.000 cetakan sarung tangan per bulan menjadi 1,5 juta unit per bulan saat ini. Produk berbasis porselen ini menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri kesehatan global.
Bisnis Tetap Tangguh
Terbukti, bisnis MARK tetap tangguh menghadapi tantangan ekonomi seperti pandemi COVID-19 maupun gejolak geopolitik.
Permintaan atas produk Perseroan tetap tinggi karena perannya yang vital dalam industri sarung tangan medis dan manufaktur global, menjadikan MARK sebagai entitas bisnis yang tahan terhadap tekanan resesi.