Ange Postecoglou Geram dengan Kritik Pedas Jelang Final Liga Europa: Saya Bukan Badut!

Jelang laga final Liga Europa 2024/2025 antara Tottenham vs Manchester United, pelatih Spurs Ange Postecoglou memberikan tanggapan keras terhadap kritik yang menyebutnya sebagai 'badut'.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 21 Mei 2025, 08:55 WIB
Pelatih Tottenham, Ange Postecoglou, berbicara dalam konferensi pers setelah pertandingan semifinal Liga Europa antara Bodo/Glimt dan Tottenham di Aspmyra Stadium, Norwegia, Kamis, 8 Mei 2025. (Mats Torbergsen/NTB via AP)

Liputan6.com, Jakarta Jelang laga final Liga Europa 2024/2025 antara Tottenham vs Manchester United, pelatih Spurs Ange Postecoglou memberikan tanggapan keras terhadap kritik yang menyebutnya sebagai 'badut'.

Dalam konferensi pers yang memanas pada Selasa (20/5/2025), pelatih asal Australia itu menegaskan bahwa dirinya layak dihormati atas perjalanan panjang dan pencapaian kariernya.

Postecoglou, yang kini memimpin Spurs ke final Eropa pertama mereka sejak 1984, tampak geram ketika diminta menanggapi artikel yang diterbitkan oleh The Standard, yang menyebut dirinya "berada di antara pahlawan dan badut" dalam membangun warisan bersama Tottenham.

“Saya katakan satu hal: apa pun yang terjadi besok, saya bukan badut dan tidak akan pernah menjadi badut,” ujar Postecoglou langsung kepada jurnalis Dan Kilpatrick, penulis artikel tersebut.

“Sungguh mengecewakan Anda menggunakan istilah seperti itu untuk menggambarkan seseorang yang telah bekerja selama 26 tahun tanpa bantuan siapa pun hingga bisa memimpin klub di final Eropa.”


Tekanan untuk Postecoglou

Pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou memberi applaus kepada para fans setelah sukses mengalahkan Burnley 1-0 pada laga putaran ketiga Piala FA 2023/2024 di Tottenham Hotspur Stadium, London, Sabtu (6/1/2024) dini hari WIB. (AP Photo/Ian Walton)

Komentar tersebut menjadi sorotan, mengingat tekanan yang terus meningkat terhadap posisi Postecoglou menyusul performa kurang meyakinkan Spurs di Premier League musim ini.

Saat ini, Tottenham terpuruk di posisi ke-17, membuat masa depan sang pelatih kian dispekulasikan.

Meski begitu, pria 59 tahun itu tetap membela kiprahnya di klub London Utara tersebut. Ia menyebut bahwa sejak awal ia diberi mandat untuk membangun ulang skuad dan mengubah gaya bermain tim.

“Saya berusaha keras mengikuti proses itu, membawa klub ini kembali ke jalur persaingan gelar, dan itu bukan tugas mudah,” tambahnya.


Peluang Emas Tottenham

Pelatih kepala Tottenham Hotspur keturunan Yunani-Australia, Ange Postecoglou, merayakan kemenangannya di akhir pertandingan leg kedua semifinal Liga Europa UEFA antara Bodoe/Glimt dan Tottenham Hotspur di Bodoe, Norwegia, Jumat dini hari WIB (9-5-2025). (Mats Torbergsen/NTB/AFP)

Postecoglou juga menyebut final ini sebagai kesempatan untuk mewujudkan tujuan utamanya bersama Spurs: membawa pulang trofi yang sudah lama dinanti fans. Klub terakhir kali mengangkat trofi domestik pada tahun 2008 dan terakhir meraih kejayaan Eropa pada tahun 1984.

Namun, tantangan Postecoglou tak hanya datang dari luar lapangan. Ia mengonfirmasi bahwa gelandang muda Lucas Bergvall tidak akan tampil dalam laga final akibat cedera. Dua pemain kunci lainnya, James Maddison dan Dejan Kulusevski, juga dipastikan absen.

Dengan tekanan tinggi dan harapan besar yang mengiringi, final Liga Europa ini bisa menjadi momen pembuktian terakhir bagi Postecoglou — bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk masa depan Tottenham Hotspur yang tengah berada di persimpangan jalan.

Sumber: The Sun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya