Kubu Hasto Sentil KPK yang Tidak Segera Tangkap Harun Masiku Meski Tahu Keberadaannya

Awalnya Arif mengungkapkan bahwa dirinya ditugaskan untuk memantau Harun Masiku sejak awal proses penyelidikan. Ia bahkan menyebut sempat mengawasi pergerakan Harun di kawasan apartemen Thamrin Residence.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 17 Mei 2025, 10:24 WIB
Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menyebut Hasto Kristiyanto secara bersama-sama dengan Donny Tri Istiqomah, Saeful Bahri, dan Harun Masiku, menyuap Wahyu Setiawan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Tim kuasa hukum Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyentil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengaku telah mengetahui keberadaan buronan Harun Masiku, namun tak kunjung melakukan penangkapan.

Hal ini dikatakan kuasa hukum Hasto, Erna Ratnaningsih usai mendengar kesaksian penyidik KPK Arif Budi Raharjo yang mengaku sudah mengetahui keberadaan Harun Masiku dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Awalnya Arif mengungkapkan bahwa dirinya ditugaskan untuk memantau Harun Masiku sejak awal proses penyelidikan. Ia bahkan menyebut sempat mengawasi pergerakan Harun di kawasan apartemen Thamrin Residence.

“Kami berusaha untuk berada di dekat-dekat dengan pihak yang bersangkutan atau target, yaitu Pak Harun Masiku,” kata Arif menjawab pertanyaan kuasa hukum Hasto, Erna Ratnaningsih.

Arif pun kemudian mengaku sudah mengetahui posisi Harun, namun tak bisa menyebutkannya di persidangan. 

"Kami ketahui tapi kami tidak bisa sampaikan di sini," jawab Arif.

Mendengar pengakuan tersebut, Erna Ratnaningsih langsung menyentil KPK yang belum juga menangkap Harun Masiku, meski keberadaannya disebut telah diketahui.

“Harusnya Saudara bisa menangkap kalau sudah ada titiknya, ya,” ucap Erna di ruang sidang.

 

 

Penyelidik KPK Ungkap Hari Terakhir Melihat Harun Masiku

Di hadapan majelis, Arif menceritakan kembali momen terpantaunya pelaku kasus suap pergantian antarwaktu calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan (PDIP) Harun Masiku, 8 Januari 2020. Menurut dia, saat itu adalah hari terakhir Harun Masiku tiba-tiba bisa menghilang sampai saat ini.

 "Pada pagi harinya Harun Masiku terlihat. Dia keluar Thamrin Residence, dia memesan taksi, kemudian ke Grand Hyatt, itu kami pantau. Pada saat (mau) operasi tangkap tangan pukul 11 siang, saya berada di sekitar Thamrin Residence, saya ada dua tim, dua mobil dan kami dibantu tim surveillance," kata Arif.

Arif menjelaskan, tim penyelidik mendeteksi lokasi Harun, namun titiknya melompat-lompat. Terkadang dekat, tapi bisa juga menjauh. Arif menduga sulitnya mendeteksi lokasi pasti Harun dikarenakan yang bersangkutan kerap mengganti moda transportasi, mulai dari mobil, motor, dan taksi.

"Kami mendeteksi dari sisi update lokasi lompat-lompat, saya juga heran mengapa posisi kadang dekat dan kadang jauh. Tapi sekitar pukul 15.00, Harun ada di Grand Hyat mau masuk Thamrin Residence. Saat itu kami berjaga," jelas penyelidik KPK itu.

Harun Masiku Tiba-Tiba Hilang

Arif mengingat, saat itu Harun memakai baju merah marun. Arif pun meminta tim untuk memantau secara ketat sebelum tim mendekat dan merapat ke lokasi target.

"Waktu itu lalu lintas macet, saya sampai turun dari mobil masuk ke Grand Hyat. Dan saat kami tiba, saya kira lift menuju kamar, tapi lift yang kami masuki adalah lift ke pusat perbelanjaan. Kami kejar dan lihat Harun, tapi sudah menumpangi sepeda motor. Lalu kami lakukan pengejaran waktu itu sekira pukul 18.00 menjelang magrib," jelas Arif.

"Kami tetap kejar dan menggali informasi. Pada saat itu HP-nya Harun masih hidup. Kami lakukan update posisi, tapi tiba-tiba menghilang titiknya," imbuhnya.

Ada Perintah Agar Harun Masiku Mencelupkan HP

Arif berkomunikasi dengan tim dari posko. Posko menyampaikan informasi bahwa ada perintah yang masuk ke Harun untuk mencelupkan ponselnya. Namun Harun Masiku tampak masih bingung dengan perintah tersebut. Selanjutnya, informan itu diketahui bernama Nur Hasan.

"Kami mendapat informasi dari posko, Harum ditelepon seseorang, bahwa ada arahan dari 'Bapak' untuk mencelupkan HP-nya, tapi Harun dari suaranya masih ragu-ragu kalimat. Hal itu yang menyampaikan bernama Hasan yang belakangan diketahui nama lengkapnya Nur Hasan," ungkap Arif.

Arif lalu melakukan update posisi terhadap Nur Hasan, dia meminta Harun merapat ke kantor DPP PDIP dan rumah SS atau Sutan Syahrir. Informasi tersebut lalu diikuti, baik ke kantor DPP PDIP dan Sutan Syahrir.

"Tapi selanjutnya kami mendapat info lagi, Nur Hasan menuju Blok M dari kantor DPP PDIP, itu posisinya magrib menuju isya. Dari sekitar Blok M itu posisinya ada di sekitaran PTIK," jelas Arif.

Karena lokasinya di sekitar kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Arif pun masuk dengan membawa surat resmi untuk mengejar Harun. Hal itu ditunjukkan saat bertemu penjaga gerbang. Penjaga pun mempersilakan Arif dan timnya masuk.

"Tim kemudian masuk ke PTIK, kami melihat di sana ada penjaga, dan kami sebelum masuk, kami izin untuk masuk dengan bawa surat tugas. Kami lalu menunggu sambil solat di masjid PTIK. Pada saat itu karena handphone Harun mati dan kemudian ada komunikasi sebelumnya (dengan Nur Hasan) ada info (Harun) akan dijemput, kami sempat muterin PTIK dan diduga posisinya Harun ada di dalam. Ketika kami menunggu Harun, kami bertemu tim Rossa (dari penyidik KPK)," jelas Arif.

Infografis Ragam Tanggapan Tekad KPK Tangkap Buron Harun Masiku. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya