Sinyal Kuat Bisnis Internet Lokal Makin Menggeliat, Intip Strategi INET

Direktur Keuangan INET, Bayu Satrio, mengungkapkan pada Maret 2025, pendapatan tumbuh 56,04% secara tahunan menjadi Rp 12 miliar.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 16 Mei 2025, 14:38 WIB
Ilustrasi laporan keuangan (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatat performa positif pada awal 2025 dengan mencatat lonjakan pendapatan signifikan.

Saat paparan publik tahunan yang digelar daring, Direktur Keuangan INET, Bayu Satrio, mengungkapkan pada Maret 2025, pendapatan tumbuh 56,04% secara tahunan menjadi Rp 12 miliar. Pertumbuhan ini menjadi sinyal kuat momentum bisnis perusahaan mulai berjalan lebih agresif sejak awal tahun.

Tren positif ini sudah tampak sejak 2023 ketika pendapatan INET melejit menjadi Rp 28,9 miliar, naik 44,82% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, dari sisi aset juga menunjukkan tren positif. Tercatat, sejak 2021 aset perusahaan terus meningkat setiap tahun hingga mencapai Rp251,5 miliar pada akhir 2024.

Bayu menuturkan, lonjakan ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari fundamental perusahaan yang semakin solid di tengah kompetisi industri digital dan jaringan yang makin ketat.

"Ini menandakan momentum pertumbuhan bisnis mulai berjalan lebih kuat sejak awal tahun 2025," ungkap Bayu dalam keterangan resmi yang dimuat keterbukaan informasi Bursa, Jumat (16/5/2025).

INET Targetkan Rp 432 Miliar per Tahun dari Proyek Internet Murah

Dalam strategi jangka panjang, INET mengumumkan gebrakan besar lewat pendirian anak usaha baru, PT Internet Anak Bangsa (IAB). Perusahaan ini akan berfokus pada pembangunan jaringan Fiber To The Home (FTTH) untuk menyasar para pemain Internet Service Provider (ISP).

Tak tanggung-tanggung, target yang dicanangkan adalah pembangunan 1 juta homepass baru di berbagai wilayah. Langkah ini dirancang bukan hanya untuk membangun infrastruktur, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan berulang (recurring income) dari aktivitas pemeliharaan jaringan.

Dengan model bisnis ini, perusahaan menargetkan potensi pendapatan tahunan mencapai Rp 432 miliar. Terdiri dari Rp 240 miliar dari pembangunan dan Rp 192 miliar dari pemeliharaan jaringan. Direktur Utama INET, Muhammad Arif menekankan pentingnya proyek ini sebagai pilar pertumbuhan masa depan perusahaan.

"INET melalui entitasnya itu sedang dalam proses mendapatkan proyek penggelaran FTTH yang menargetkan market secara spesifik dengan layanan lebih terjangkau. Selain pembangunan, project ini akan memberikan recurring income untuk maintenance pada aset yang di bangun," ujarnya.

Gandeng Triasmitra dan Mora, INET Manfaatkan Jalur Kabel Laut Jakarta-Singapura

Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Lewat anak usaha PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), INET mengunci kerja sama strategis dengan PT Jejaring Mitra Persada (JMP), anak perusahaan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).

Kesepakatan ini memungkinkan PFI memanfaatkan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menghubungkan Jakarta dan Singapura, yang akan dibangun bersama oleh Triasmitra Group dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Aset SKKL ini bakal dimanfaatkan sebagai jalur tulang punggung layanan internet berkapasitas tinggi yang akan mendukung pertumbuhan permintaan data lintas negara. INET telah mengantongi daftar calon klien potensial yang siap menggunakan layanan ini setelah infrastruktur tersedia. Kerja sama ini dilakukan dengan skema Indefeasible Right of Use (IRU), sehingga PFI berhak menggunakan sebagian kapasitas SKKL untuk jangka panjang.

Melalui perjanjian ini, Pusat Fiber Indonesia akan memanfaatkan aset Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang membentang dari Jakarta menuju Singapura yang akan dibangun bersama oleh Triasmitra Group dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

"Saat ini Perseroan telah memiliki beberapa daftar klien potensial yang akan menjadi pengguna produk layanan terbaru dari Perseroan ini," jelas manajemen.

 

INET Klarifikasi Isu Rising 8

Terkait pemberitaan sebelumnya yang menyebut bahwa INET terlibat dalam pembangunan SKKL Rising 8 bersama PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), manajemen meluruskan informasi tersebut.

Perseroan menegaskan bahwa kerja sama dilakukan melalui anak usaha PFI dan bersifat sebagai pemegang IRU, bukan sebagai mitra pengembang proyek. PFI memperoleh hak pakai untuk segmen SKKL MIC 2 (B2JS) Tanjung Pinggir (Batam) - Tanah Merah (Singapura) serta SKKL Rising 8 segmen Tanjung Pakis (Jakarta) - Tanjung Bemban (Batam). Dengan status tersebut, INET tidak terlibat dalam pembangunan fisik jaringan kabel laut, melainkan hanya memanfaatkan kapasitas yang tersedia untuk keperluan bisnis.

"Sehingga kami meluruskan bahwa posisi PFI bukan sebagai mitra/partner dalam membangun/menggelar SKKL Rising 8 melainkan sebagai mitra pemegang IRU yang nantinya akan memiliki hak pemanfaatan SKKL tersebut," tegas manajemen.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya