Wayang Si Ronda, Bentuk Degradasi Seni Lenong Betawi

Sesuai namanya, wayang si ronda dipentaskan dengan berkeliling atau berputar seperti sedang ronda. Semua pemain bisa masuk dari mana saja.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 19 Mei 2025, 01:00 WIB
Seniman lenong Betawi saat tampil secara virtual di Jakarta, Selasa (8/12/2020). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberdayakan kembali seniman Betawi yang sempat terhenti di masa pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Wayang si ronda merupakan salah satu jenis wayang yang berkembang dan tersebar di wilayah pinggiran Jakarta, seperti Kelapa Dua, Parung, dan Tangerang. Wayang ini sebenarnya merupakan bentuk degradasi dari lenong khas Betawi.

Sesuai namanya, wayang si ronda dipentaskan dengan berkeliling atau berputar seperti sedang ronda. Semua pemain bisa masuk dari mana saja.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, wayang si ronda Betawi merupakan degradasi dari lenong. Hal ini tertulis dalam Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman (1998). Sebelum ada lenong, mereka bermain sebagai panjak wayang si ronda.

Pertunjukan ini umumnya sama dengan pagelaran lenong. Hanya saja, lenong dipentaskan di atas panggung, sedangkan wayang si ronda dipentaskan di atas tanah, seperti ubrug, belantek, dan topeng pada masa lampau.

Wayang si ronda dipentaskan dengan menggunakan layar yang menjadi pusat pentas. Fungsi utamanya sebagai penghalang antara panggung pentas dengan bagian belakang panggung.

Adapun belakang panggung menjadi tempat berhias, berganti pakaian, sekaligus tempat untuk menunggu giliran bermain.

 

Wayang Betawi

Pakem yang digunakan dalam jenis wayang ini mengikuti wayang betawi. Lakon atau cerita yang ditampilkan biasanya mengangkat cerita-cerita rakyat Betawi, seperti cerita Si Ronda Macan Betawi.

Dalam dunia film, Si Ronda terkenal sebagai salah satu judul film silat Hindia Belanda yang dirilis pada 1930. Film bisu karya sutradara Lie Tek Swie ini mengisahkan seorang ahli bela diri bernama Si Ronda.

Alur film ini diadaptasi dari drama panggung atau lenong ternama di Batavia. Pada 1978, muncul film kedua yang diadaptasi dari cerita yang sama, Si Ronda Macan Betawi.

Saat ini, wayang si ronda masih ada dan terus dimainkan. Meski penyebarannya terbatas, tetapi wayang ini masih tetap eksis hingga sekarang sebagai bagian dari seni budaya Betawi.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya