Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah berjangka melonjak lebih dari 1% pada penutupan perdagangan hari Senin, setelah Amerika Serikat (AS) dan China sepakat untuk memangkas tarif untuk sementara. Kesepakatan kedua negara ini meredakan ketegangan perdagangan antara dua konsumen minyak bumi terbesar di dunia.
Mengutip CNBC, Selasa (13/5/2025), harga minyak mentah AS naik 93 sen atau 1,52% ditutup pada USD 61,95 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga dunia naik USD 1,05 atau 1,64% ditutup pada USD 64,96 per barel. Harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 4% di awal sesi.
Advertisement
Pemerintahan Washington dan Beijing sepakat dalam perundingan yang berlangsung selama akhir pekan kemarin di Swiss untuk memangkas tarif yang sangat tinggi sebesar 115%. Hal ini diungkap oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Senin.
Pemangkasan tarif ini berlaku sementara selama 90 hari. Waktu pemangkasan tarif ini memberikan waktu untuk AS dan China untuki menegosiasikan tarif lanjutan yang lebih masih akal untuk kedua belah pihak.
"Saya membayangkan dalam beberapa minggu ke depan kita akan bertemu lagi untuk memulai kesepakatan yang lebih matang," kata Menkeu AS Bessent di acara "Squawk Box" CNBC.
Tarif AS untuk barang impor dari China sekarang mencapai 30%, sementara tarif Beijing untuk barang-barang AS sekarang 10%. Tarif sebelumnya secara efektif setara dengan embargo perdagangan, kata Bessent sebelumnya.
Angin Segar
Harga minyak dunia telah jatuh ke level terendah dalam empat tahun di awal bulan ini karena rezim tarif global Presiden Donald Trump. Kejatuhan harga minyak ini mendekati level di awal pandemi Covid-19 yang menyerang seluruh dunia.
Di awal bulan April saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal kepada ratusan negara langsung meningkatkan risiko resesi global yang akan memperlambat permintaan minyak dunia.
Pada saat yang sama, OPEC+ yang merupakan organisasi negara produsen minyak beserta sejumlah sekutunya telah sepakat untuk segera meningkatkan pasokan minyak mentah ke pasar bulan ini dan berikutnya.
Harga minyak turun lebih dari 12% sepanjang tahun ini.
Biaya Produksi
Harga yang rendah menekan produsen minyak kelas kecil di AS, yang umumnya membutuhkan harga minyak mentah di atas angka USD 65 per barel untuk mengebor sumur baru agar menguntungkan.
Eksekutif Diamondback Energy memberi tahu investor minggu lalu bahwa produksi AS kemungkinan akan mencapai puncaknya dan mulai menurun jika minyak mentah tidak pulih kembali.
Diamondback membutuhkan harga minyak mentah AS di kisaran pertengahan hingga tinggi USD 60-an dan di jalur menuju USD 70 agar produksi dapat tumbuh, kata Presiden perusahaan Matthew Kaes Van't Hof.
"Semua operator yang diajak bicara oleh Diamondback sepakat bahwa harga minyak saat ini tidak sesuai dengan biaya produksi," kata Van't Hof.